Nama “susu ikan” menjadi populer sekaligus menuai polemik akhir-akhir ini, seiring dengan diskursus mengenai menu makan bergizi gratis atau makan siang bergizi, yang merupakan salah satu program presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Susu ikan diusulkan sebagai substitusi susu sapi dalam menu program makan siang bergizi. Sebagai salah satu minuman yang mengandung nutrisi tinggi, terutama protein, usulan agar susu ikan digunakan sebagai menu makan, patut disambut dan diapresiasi. Namun, minuman yang disebut sebagai susu ikan tersebut tidak dapat menggantikan susu sapi. Pasalnya susu ikan bukanlah produk susu sebenarnya, sebagaimana yang kita kenal dan konsumsi selama ini.
“Susu Ikan” Menyesatkan
Sebutan “susu ikan” untuk menyebut minuman protein, turunan dari hidrolisat protein ikan (HPI), yang diolah dan disajikan menyerupai susu, tidaklah tepat sekaligus menyesatkan. Banyak minuman yang diolah dan menyerupai susu, namun tidak disebut susu. Selain tidak menggunakan susu sebagai bahan baku, sebutan susu pada setiap minuman yang mirip atau menyerupai susu, dapat mengecoh, untuk tidak dikatakan membodohi masyarakat.
Sebagai contoh sebutan “susu kedelai”. Sekalipun susu kedelai, susu soya, atau sari kedelai adalah minuman yang mengandung nutrisi tinggi, lezat, dan sangat bermanfaat, susu kedelai adalah minuman yang diproses dengan menggiling dan merendam kedelai, sehingga merupakan minuman dari sari nabati. Sekalipun disebut sebagai susu, susu kedelai tidak dapat menggantikan susu dari hewan. Seperti susu ikan, sebutan untuk susu kedelai juga menyesatkan.
Susu yang kita kenal berasal dari kelenjar susu mamalia, termasuk manusia. Susu yang menjadi minuman manusia dari bayi hingga orang dewasa adalah cairan dari ambing (kelenjar dalam payudara yang mengeluarkan air susu) sapi, kerbau, domba, kambing, kuda, dan hewan ternak penghasil susu lainnya.
Susu yang dihasilkan dari kelenjar susu mamalia, tidak bisa disamakan dengan produk lain yang disebut susu. Pasalnya, produksi susu dari mamalia berlangsung secara alami dan sangat praktis. Campur tangan manusia hanyalah menyediakan kebutuhan agar mamalia dapat menghasilkan susu secara maksimal dan berkualitas.
Manusia dapat menghasilkan susu sintetis yang kandungan biokimiawinya mungkin menyerupai susu alami, yang dihasilkan oleh mamalia. Namun, prosesnya menggunakan bioteknologi yang lebih kompleks, dan harganya pun belum tentu murah.
Produk apa pun yang dihasilkan dari hewan dan tumbuhan dan menyerupai susu, tidak bisa disebut sebagai susu. Karena susu yang dihasilkan oleh mamalia, terutama sapi, adalah bahan pangan penting yang telah diterima secara internasional. Susu adalah salah satu bahan pangan yang digunakan untuk memerangi tengkes (stunting) dan kurang gizi dan gizi buruk.
Tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia saat ini adalah 16,9 kg/kapita/tahun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Filipina (17,8 kg/kapita/tahun), Thailand (22,2 kg/kapita/tahun), Myanmar (26,7 kg/kapita/tahun), dan Malaysia (36,2 kg/kapita/tahun). Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tingkat konsumsi susu di bawah 30 kg/kapita/tahun tergolong kategori rendah; kategori menengah adalah 30-150 kg/kapita/tahun, dan ketegori tinggi adalah lebih dari 150 kg/kapita/tahun.
Susu adalah bahan pangan yang mudah diproduksi dan sangat mudah dikonsumsi. Setiap orang dapat mengonsumsi susu sejak bayi, air susu ibu (ASI) hingga dewasa. Dalam perkembangannya, manusia mengonsumsi susu dari hewan. Susu adalah pangan yang mudah dikonsumsi dan mudah diserap oleh tubuh. Di dalam Al-Quran disebutkan susu mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya (QS. 16/Al-Nahl: 66).
“Sari Ikan” Lebih Logis
Banyak minuman yang diproduksi dari olahan tumbuhan, terutama buah dan sayur, dengan ekstraksi atau pemerasan cairan, yang dikenal sebagai jus (juice) atau sari. Salah satu sari yang disebut “susu” adalah olahan kedelai, yakni susu kedelai, yang seharusnya disebut sari kedelai.
Belakangan menyusul susu ikan yang merupakan olahan dari ikan. Produk yang disebut “susu ikan” ini diproses dengan bahan baku ikan yang kemudian diolah dengan bioteknologi modern, hingga akhirnya menghasilkan HPI sebagai bahan baku “susu ikan”.
Susu ikan ini diklaim mengandung asam lemak EPA (eicosapentaenoic acid), DHA (decosahexaenoic acid), dan omega-3 yang tinggi. Selain itu, susu ikan diklaim bebas alergen (senyawa yang memicu tubuh menimbulkan reaksi alergi) dan mudah dicerna oleh tubuh. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi, setiap takaran 35 gram atau 165 mililiter susu ikan mengandung 28 persen kalisum, 20 persen vitamin C, 33 mg DHA, 9 mg EPA, 49 mg omega-3, 5 mg omega-6, 11 persen protein, dan 4.380 mg asam amino (Kompas 12/09/2024; Kompas 14/09/2024).
Sebagai produk yang dihasilkan dengan mengolah ikan. walaupun mengandung nutrisi tinggi dan cukup lengkap, yang mungkin mendekati susu (mamalia), produk susu ikan tidak bisa menggantikan susu. Karena itu, seharusnya produk ini lebih logis dan bijak diberi nama “sari ikan” atau “minuman sari ikan”. Dan minuman sari ikan ini menjadi salah satu bahan pangan untuk program makan siang bergizi.
Sebagai bahan pangan, minuman sari ikan sangat menarik. Minuman sari ikan mudah dikonsumsi dan distribusikan, termasuk dalam penyimpanannya. Bagi mereka yang menganggap makan ikan sebagai perkara sulit, karena adanya tulang/duri, bau amis, dan sebagainya, maka minuman sari ikan menjadi pilihan yang tepat.
Ikan, Makanan Ramah Iklim
Salah satu yang patut diacungi jempol dalam produk minuman sari ikan adalah penggunaan bahan baku di dalam negeri, dengan memanfaatkan jenis ikan bernilai rendah secara ekonomi, seperti pepetek (Leiognathus sp, Secutor sp, Gazza sp), selar (Selaroides sp, Selar sp, Alepes sp), dan sebagainya.
HPI yang menjadi bahan baku utama minuman sari ikan memiliki karakteristik multifungsi yang dapat menopang inovasi produk pangan lokal berbahan baku ikan. HPI tidak hanya menjadi minuman sari ikan, tetapi juga digunakan sebagai bahan tambahan pangan ke dalam beragam makanan.
Minuman sari ikan merupakan inovasi dan diversifikasi produk dari olahan ikan, yang sangat potensial meningkatkan konsumsi ikan masyarakat Indonesia. Saat ini tingkat konsumsi ikan masyarakat baru mencapai 56,48 kg/kapita/tahun. Angka ini masih rendah dibandingkan dengan negara jiran Malaysia dan Singapura yang masing-masing telah mencapai 80 kg/kapita/tahun dan 90 kg/kapita/tahun. Sementara tingkat konsumsi ikan di negara-negara maju telah mencapai di atas 100 kg/kapita/tahun. Bahkan Jepang telah mencapai 140 kg/kapita/tahun.
Meningkatkan konsumsi ikan sangat penting. Hal ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan, sekaligus menurunkan emisi. Pasalnya, apa yang kita makan, berapa banyak, dan di mana bahan pangan tersebut diproduksi dapat menciptakan perbedaan besar dalam emisi gas rumah kaca (GRK). Studi Li et al. (2022) menyebutkan, sistem pangan global menyumbang sekitar 15,8 Gt CO₂e, setara dengan 30 persen emisi GRK dunia. Emisi ini dihasilkan dari proses produksi, distribusi, konsumsi, hingga sampah makanan.
Produksi daging susu menjadi penyumbang besar emisi dibandingkan sumber pangan nabati. Selain dari besarnya lahan yang dibutuhkan untuk menopang pakan/makanan ternak, kotoran ternak ruminansia, termasuk sapi, mengeluarkan gas metan yang merupakan GRK. Emisi yang dihasilkan dari produksi daging sangat mencolok. Produksi 1 kg gandum mengeluarkan 2,5 kg emisi, sementara produksi 1 kg daging sapi menghasilkan 70 kg emisi (Arif, 2024).
Sementara itu, produksi pangan dari laut dan dari perairan menghasilkan lebih sedikit emisi GRK. Pangan akuatik tidak hanya menjadi alternatif sumber protein dan nutrisi lainnya, tetapi juga ramah iklim. Menurut Tyedmers et al. (2022) bahwa kebijakan untuk mempromosikan makan laut pengganti protein hewani lainnya dapat meningkatkan ketahanan pangan di masa depan dan membantu mengatasi perubahan iklim.
Indonesia mempunyai sumber pangan dari laut dan air tawar yang melimpah. Karena itu, saatnya masyarakat Indonesia harus meningkatkan konsumsi ikan. Artinya penting digunakan sebagai menu program makan siang bergizi. Makan ikan penting untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi dan kesehatan, sekaligus memelihara bumi.[]





