back to top
Katulistiwa |

Fatmawati Sukur dan Pilihan Mengabdi

Terpopuler

Artikel Terkait

Pagi di Ternate Selatan selalu dimulai dengan riuh yang tertahan. Di antara denyut kota dan lalu lintas warga, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Fatmawati Sukur menjalani hari-harinya sebagai polisi, bukan hanya penegak aturan, melainkan pula penjaga kepercayaan.

Seragam yang ia kenakan hari ini adalah hasil dari pilihan panjang, yang berakar pada rumah sederhana dan pesan orang tua tentang kebaikan.

Ipda Fatmawati Sukur tumbuh dari rumah sederhana, sebagai anak kedua sekaligus bungsu dari dua bersaudara. Orang tuanya berwirausaha, menghidupi keluarga dengan kerja keras dan satu pesan yang ia simpan rapat hingga kini: berbuat baik kepada siapa pun, sebab kita tak pernah tahu dari arah mana pertolongan akan datang.

Cita-citanya semula jauh dari seragam cokelat. Ia ingin menjadi dokter, yang menyembuhkan dengan stetoskop dan resep. Namun hidup membawanya ke jalan lain. Tahun-tahun belalu, pilihan pun mengerucut, dan Fatmawati akhirnya berdiri sebagai seorang polisi wanita (Polwan). Bukan semata demi kebanggaan diri atau keluarga, tetapi karena satu keyakinan sederhana: melayani masyarakat adalah kehormatan.

“Menjadi pelayan masyarakat adalah kebanggaan, bagi diri saya dan keluarga,” katanya mantap kepada Hardianto, Senin (2/2).

Seragam Polwan kini bukan sekadar pakaian dinas, melainkan pilihan hidup. Di sana ia menemukan kegembiraan, rasa berguna, dan makna pengabdian. Prinsip hidupnya tetap sama seperti pesan orang tua: berbuat baik dan banyak bersyukur.

Bagi Fatmawati, prestasi tidak selalu berwujud piagam atau pangkat. Jika kehadirannya membuat masyarakat merasa terbantu dan tetap percaya pada polisi, itulah capaian tertingginya. “Kalau saya bisa membantu masyarakat, itulah prestasi saya,” ujarnya dengan renda hati.

Di luar tugas, ia memiliki kegemaran menyelam—diving—menikmati sunyi laut, mungkin sebagai cara menyeimbangkan riuh pekerjaan dan tekanan tanggung jawab.

Kini, Ipda Fatmawati Sukur dipercaya memimpin Kepolisian Sektor Ternate Selatan sejak 2025. Ia menjadi Polwan ketiga yang menjabat Kapolsek di wilayah tersebut, menggantikan AKP Bakry Syahruddin yang dipromosikan sebagai Kasat Reskrim Polres Ternate. Serah terima jabatan dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 10 Juli 2025, di Polres Ternate.

Sebelumnya, Fatmawati menjabat sebagai Kaurbinopsnal Satreskrim Polres Ternate. Dalam perannya yang baru, ia menyiapkan tiga program utama. Pertama, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat melalui patroli rutin. Kedua, program penertiban minuman keras—baik pengguna maupun penjual—yang akan diproses sesuai hukum. Menurutnya, banyak tindak pidana bermula dari konsumsi miras.

Ketiga, membuka akses langsung bagi warga melalui program “Lapor Kapolsek”, agar masyarakat yang merasa terganggu keamanan atau keselamatannya dapat menghubungi Kapolsek secara langsung.

Ia adalah perwira alumni Sekolah Inspektur Polisi (SIP) angkatan ke-51 tahun 2022, setelah lebih dulu mengikuti pendidikan Diktukba Polwan pada 2008. Perempuan kelahiran Ujung Pandang, 1989, ini juga dikenal sebagai istri dari Kapolsek Oba Utara, Ipda Suherlin.

Pendidikan formalnya ditempuh sepenuhnya di Maluku Utara: SD Negeri 1 Bastiong (lulus 2000), SMP Negeri 4 Ternate (2003), SMA Negeri 1 Ternate (2006), hingga meraih gelar sarjana di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara pada 2014.

Kariernya di kepolisian ditempa dari bawah. Ia pernah bertugas sebagai Ba Polda Maluku Utara (2008), Ba Rorena (2009), Ba Spripim (2009), Ba Ditlantas (2012), hingga Ba dan Banit di Ditreskrimsus Polda Maluku Utara. Setelah lulus SIP pada 2022, ia menjalani penugasan sebagai Kanit Turjawali Sat Samapta Polres Ternate, kemudian bertugas di Sat Narkoba sebagai Kanit II dan Kanit I, sebelum dipercaya sebagai Kaurbinopsnal Satreskrim pada 2025.

Bagi Ipda Fatmawati Sukur, jabatan bukanlah puncak, melainkan titik lanjut pengabdian. Di balik pangkat dan struktur, ia tetap seorang anak dari pesan orang tua yang sederhana—tentang kebaikan, rasa syukur, dan tentang hadir bagi sesama.

Di Ternate Selatan, di antara hiruk-pikuk kota dan harapan warganya, Fatmawati menjaga satu hal yang paling rapuh sekaligus paling berharga, kepercayaan. Dan di sanalah, pengabdian itu menemukan maknanya.

Tim Redaksi
Editor:

Literasi

Profile

Khazanah

Bagikan :

Artikel Terkait

Pagi di Ternate Selatan selalu dimulai dengan riuh yang tertahan. Di antara denyut kota dan lalu lintas warga, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Fatmawati Sukur menjalani hari-harinya sebagai polisi, bukan hanya penegak aturan, melainkan pula penjaga kepercayaan.

Seragam yang ia kenakan hari ini adalah hasil dari pilihan panjang, yang berakar pada rumah sederhana dan pesan orang tua tentang kebaikan.

Ipda Fatmawati Sukur tumbuh dari rumah sederhana, sebagai anak kedua sekaligus bungsu dari dua bersaudara. Orang tuanya berwirausaha, menghidupi keluarga dengan kerja keras dan satu pesan yang ia simpan rapat hingga kini: berbuat baik kepada siapa pun, sebab kita tak pernah tahu dari arah mana pertolongan akan datang.

Cita-citanya semula jauh dari seragam cokelat. Ia ingin menjadi dokter, yang menyembuhkan dengan stetoskop dan resep. Namun hidup membawanya ke jalan lain. Tahun-tahun belalu, pilihan pun mengerucut, dan Fatmawati akhirnya berdiri sebagai seorang polisi wanita (Polwan). Bukan semata demi kebanggaan diri atau keluarga, tetapi karena satu keyakinan sederhana: melayani masyarakat adalah kehormatan.

“Menjadi pelayan masyarakat adalah kebanggaan, bagi diri saya dan keluarga,” katanya mantap kepada Hardianto, Senin (2/2).

Seragam Polwan kini bukan sekadar pakaian dinas, melainkan pilihan hidup. Di sana ia menemukan kegembiraan, rasa berguna, dan makna pengabdian. Prinsip hidupnya tetap sama seperti pesan orang tua: berbuat baik dan banyak bersyukur.

Bagi Fatmawati, prestasi tidak selalu berwujud piagam atau pangkat. Jika kehadirannya membuat masyarakat merasa terbantu dan tetap percaya pada polisi, itulah capaian tertingginya. “Kalau saya bisa membantu masyarakat, itulah prestasi saya,” ujarnya dengan renda hati.

Di luar tugas, ia memiliki kegemaran menyelam—diving—menikmati sunyi laut, mungkin sebagai cara menyeimbangkan riuh pekerjaan dan tekanan tanggung jawab.

Kini, Ipda Fatmawati Sukur dipercaya memimpin Kepolisian Sektor Ternate Selatan sejak 2025. Ia menjadi Polwan ketiga yang menjabat Kapolsek di wilayah tersebut, menggantikan AKP Bakry Syahruddin yang dipromosikan sebagai Kasat Reskrim Polres Ternate. Serah terima jabatan dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 10 Juli 2025, di Polres Ternate.

Sebelumnya, Fatmawati menjabat sebagai Kaurbinopsnal Satreskrim Polres Ternate. Dalam perannya yang baru, ia menyiapkan tiga program utama. Pertama, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat melalui patroli rutin. Kedua, program penertiban minuman keras—baik pengguna maupun penjual—yang akan diproses sesuai hukum. Menurutnya, banyak tindak pidana bermula dari konsumsi miras.

Ketiga, membuka akses langsung bagi warga melalui program “Lapor Kapolsek”, agar masyarakat yang merasa terganggu keamanan atau keselamatannya dapat menghubungi Kapolsek secara langsung.

Ia adalah perwira alumni Sekolah Inspektur Polisi (SIP) angkatan ke-51 tahun 2022, setelah lebih dulu mengikuti pendidikan Diktukba Polwan pada 2008. Perempuan kelahiran Ujung Pandang, 1989, ini juga dikenal sebagai istri dari Kapolsek Oba Utara, Ipda Suherlin.

Pendidikan formalnya ditempuh sepenuhnya di Maluku Utara: SD Negeri 1 Bastiong (lulus 2000), SMP Negeri 4 Ternate (2003), SMA Negeri 1 Ternate (2006), hingga meraih gelar sarjana di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara pada 2014.

Kariernya di kepolisian ditempa dari bawah. Ia pernah bertugas sebagai Ba Polda Maluku Utara (2008), Ba Rorena (2009), Ba Spripim (2009), Ba Ditlantas (2012), hingga Ba dan Banit di Ditreskrimsus Polda Maluku Utara. Setelah lulus SIP pada 2022, ia menjalani penugasan sebagai Kanit Turjawali Sat Samapta Polres Ternate, kemudian bertugas di Sat Narkoba sebagai Kanit II dan Kanit I, sebelum dipercaya sebagai Kaurbinopsnal Satreskrim pada 2025.

Bagi Ipda Fatmawati Sukur, jabatan bukanlah puncak, melainkan titik lanjut pengabdian. Di balik pangkat dan struktur, ia tetap seorang anak dari pesan orang tua yang sederhana—tentang kebaikan, rasa syukur, dan tentang hadir bagi sesama.

Di Ternate Selatan, di antara hiruk-pikuk kota dan harapan warganya, Fatmawati menjaga satu hal yang paling rapuh sekaligus paling berharga, kepercayaan. Dan di sanalah, pengabdian itu menemukan maknanya.

Tim Redaksi
Editor:
Bagikan :

Artikel Terkait

Terpopuler

Latest Articles