Ternate — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ternate, melalui rilisnya pada 1 Desember melaporkan inflasi year on year (YoY) pada November 2025 mencapai 2,28 persen.
BPS menjelaskan bahwa perkembangan harga sejumlah komoditas pada November 2025 secara umum mengalami kenaikan. Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat naik dari 107,90 pada November 2024 menjadi 110,36 pada November 2025.
Adapun tingkat inflasi month to month (MtM) dan year to date (YtD) masing-masing sebesar 1,27 persen dan 1,98 persen.
Kenaikan inflasi YoY didorong oleh peningkatan harga pada delapan kelompok pengeluaran, yakni perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,72 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 5,39 persen; makanan, minuman, dan tembakau 2,86 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,66 persen.
Kesehatan sebesar 1,77 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya 1,56 persen; transportasi 0,36 persen; serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen.
Sementara, tiga kelompok pengeluaran mengalami deflasi, yaitu pendidikan sebesar 16,86 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,60 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,60 persen.
Terpisah, melansir dari laman investor.id, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, dalam program “Beritasatu Spesial” di Jakarta menerangkan apa itu inflasi dan mengapa menjadi penting untuk masyarakat luas mengetahui perkembangan inflasi yang memengaruhi kondisi perekonomian terkini.
“Jadi inflasi itu adalah rekaman dari perubahan harga yang diterima oleh konsumen,” ungkap perempuan kedua yang jadi Kepala BPS RI itu, pada Kamis (4/12).
Amalia yang akrab disapa Winny menerangkan, BPS melaporkan perkembangan inflasi setiap bulan (MtM), tahunan (YoY), dan tahun berjalan (year to date/YtD).
BPS juga merekam inflasi dalam dua kelompok, yaitu inflasi inti (core inflation) dan inflasi non-inti.
Winny mengatakan, kelompok inflasi inti merupakan perubahan harga barang atau jasa dari kelompok komoditas yang memang diperlukan konsumen, tetapi harganya tidak bergejolak. Contohnya adalah biaya pendidikan dan biaya perumahan, hingga emas perhiasan.
Sedangkan inflasi non-inti terbagi menjadi dua: inflasi komponen bergejolak (volatile food), dan inflasi komponen harga yang diatur oleh pemerintah (administered prices).
Komponen bergejolak (volatile food) dapat berupa komoditas barang atau jasa yang memang harganya sering mengalami fluktuasi karena dipengaruhi kondisi pasokan. Seperti komoditas beras, cabai merah, cabai rawit, dan berbagai komoditas lainnya.
Sementara, komoditas yang dihitung dalam inflasi komponen harga yang diatur oleh pemerintah (administered prices) seperti listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan harga energi lainnya. Ini juga relatif terjaga.



