Pagi di Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih dari luka bencana. Pada hari ketujuh misi kemanusiaan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Khairun (FKIK Unkhair), Ternate, kembali menapaki jalur-jalur terdampak—tak hanya membawa stetoskop dan obat-obatan, melainkan pula logistik pangan yang dibutuhkan warga untuk bertahan.
Pelayanan kesehatan tetap menjadi poros utama. Namun kali ini, distribusi kebutuhan dasar mendapat porsi perhatian yang sama. Tim FKIK Unkhair menyebar di sejumlah titik, bergerak serentak agar bantuan tidak menumpuk di satu tempat, sementara wilayah lain terlewat.
Koordinator Tim PKM Tanggap Darurat Bencana Unkhair, dr. Wahyunita Do Toka, M.Biomed, mengatakan hari ketujuh menjadi momentum untuk menjaga keseimbangan antara layanan medis dan pemenuhan kebutuhan harian warga.
“Pelayanan kesehatan tetap berjalan, tetapi kami juga memastikan logistik dan kebutuhan pangan benar-benar sampai ke tangan masyarakat terdampak,” ujar dr Wahyunita, Jumat (26/12).
Sebanyak empat tim diterjunkan secara paralel. Tiga tim fokus pada konsultasi rawat jalan, dan satu tim khusus menyalurkan bantuan logistik pangan.
Di Halaman DPRK Aceh Tamiang, Tim 1 melayani 116 pasien. Tim ini diperkuat oleh apt. Herri Yulimanida, M.Farm.Klin, dan Chairul Anam, S.Ked. Keluhan warga beragam, dari gangguan pernapasan hingga penyakit kulit yang lazim muncul di masa darurat.
Tim 2 bergerak ke Desa Pahlawan dan Simpang 3, Kecamatan Karang Baru. Dengan dukungan dr. Ferdian Hidayat, Sp.B-KBD, dr. Fathul Rizky, M.Kes, dan apt. Sandrawati, M.Si, tim ini melayani 87 pasien.
Sementara itu, di Lorong Gelugur, Desa Gampong Johar, Tim 3 menangani 31 pasien. Tim ini dipimpin langsung oleh dr. Wahyunita bersama dr. Aprianti Muhammad dan Emardianto Saputra, S.Ked.
Total, layanan konsultasi rawat jalan hari itu menjangkau 234 warga.
Di luar tenda medis, Tim 4 FKIK Unkhair menyusuri Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka. Mereka membagikan logistik pangan, mulai dari bahan makanan pokok, popok, selimut, kompor, hingga masker. Penyaluran ini melibatkan apt. Amran Nur, S.Farm, M.Kes, apt. Abulkhair Abdullah, S.Farm, M.Farm, apt. Aditya Sindu Sakti, M.Si, dan Fahrin Sibela.
“Dalam situasi pascabencana, warga tak hanya membutuhkan obat, tetapi juga kepastian bahwa kebutuhan dasar mereka terpenuhi,” kata dr Wahyunita.

Ke depan, FKIK Unkhair merencanakan langkah lanjutan yang lebih berjangka panjang.
Selain layanan medis dan distribusi logistik, tim akan memfokuskan pendampingan psikososial serta edukasi Tanaman Obat Keluarga (TOGA)—upaya kecil namun penting agar masyarakat perlahan bangkit dan kembali mandiri.
Di Aceh Tamiang, bantuan tak lagi sekadar soal hari ini. Ia menjadi jembatan menuju pemulihan.*



