Halbar – Banjir yang melanda Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, menyisakan persoalan panjang bagi warga. Di tengah upaya pemulihan pascabencana, PT Harita Nickel menyalurkan bantuan logistik dan menerjunkan Emergency Response Team (ERT) atau tim tanggap darurat ke sejumlah titik terdampak.
Bantuan tersebut disalurkan melalui program “Harita Nickel Peduli” dan diterima secara simbolis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Barat pada Minggu, 11 Januari. Kepala Pelaksana BPBD Halmahera Barat, Gunawan MT Ali, menyebut dukungan tersebut akan segera didistribusikan kepada warga di tujuh kecamatan terdampak banjir.
“Bantuan logistik ini sangat dibutuhkan dan akan langsung kami salurkan kepada masyarakat,” kata Gunawan.
Logistik yang diserahkan meliputi beras kemasan, mi instan, air mineral, serta matras atau tikar yang digunakan pengungsi di posko-posko desa. Selain itu, Harita Nickel juga mengerahkan tiga tim Rescue atau Emergency Response untuk membantu pembersihan sisa lumpur dan puing banjir di permukiman warga.
Dua tim paramedis turut diterjunkan untuk memberikan layanan kesehatan gratis. Mereka membawa obat-obatan dan melakukan pemeriksaan kesehatan, bekerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Ibu. Sejumlah warga mengeluhkan gangguan kesehatan seperti demam, batuk, dan penyakit kulit sejak banjir melanda.
Camat Ibu, Warjin Hi Soleman, menyebutkan banjir berdampak pada 1.593 jiwa atau 497 kepala keluarga. Menurut dia, kebutuhan pangan darurat mulai tertangani melalui dapur umum yang dikelola TNI-Polri dan Tagana. Namun, layanan kesehatan dan perlengkapan dasar bagi pengungsi masih sangat dibutuhkan.
“Kehadiran tim medis dan bantuan alas tidur cukup membantu menjaga kondisi warga tetap stabil,” ujarnya.
Di Desa Tongute Ternate, Kepala Desa Said Sania mengatakan dampak psikologis mulai dirasakan warga, terutama kelompok rentan seperti lansia dan perempuan. Kelelahan fisik dan trauma memperparah kondisi kesehatan masyarakat pascabencana.
“Keluhan gatal-gatal, demam, dan batuk sudah muncul sejak hari pertama. Pemeriksaan kesehatan sangat membantu,” kata Said.
Di balik aktivitas pembersihan, tersimpan kisah pilu para penyintas. Sukarni Siu, warga Tongute Ternate, menceritakan bagaimana ia harus menggendong suaminya yang sakit ke tempat lebih tinggi saat air setinggi dada masuk ke rumah mereka pada malam hari. Di saat yang sama, anak sulungnya tengah menjalani perawatan amputasi kaki di Ternate.
“Semua terjadi bersamaan. Rumah terendam, suami sakit, anak dirawat jauh dari sini,” kata Sukarni dengan suara tertahan.
Kisah serupa dialami Arfia Jalal, 65 tahun. Ia menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah sepanjang hidupnya. Seluruh peralatan rumah tangga dan pakaian hanyut terbawa arus.
“Badan saya sakit semua setelah kejadian itu. Untungnya sudah diperiksa dan diberi obat,” ujarnya.
Hingga kini, tim gabungan pemerintah daerah, relawan, dan unsur swasta masih bekerja membersihkan sisa material banjir serta memastikan layanan kesehatan tetap tersedia bagi warga selama masa pemulihan.*



