“Keheningan adalah bahasa Tuhan. Selebihnya hanyalah terjemahan.”
Saya menjumpai kalimat Jalaluddin Rumi itu bertahun-tahun lalu. Sampai hari ini, saya menyukainya bahkan ketika saya tidak pernah benar-benar selesai memahaminya. Ia seperti teka-teki yang terus tumbuh di dalam kepala.
Kalau dipikir-pikir, jika keheningan memang bahasa-Nya, lalu mengapa hidup kita hari ini justru riuh oleh begitu banyak kata? Setiap pagi, begitu membuka mata, kita langsung dihadapkan pada dorongan untuk menjelaskan diri, membela pendapat atau bahkan mengomentari urusan orang lain. Kita mendadak merasa wajib memiliki opini tentang segala hal yang melintas di layar ponsel.
Kita memang sedang merayakan zaman yang aneh. Sepanjang sejarah peradaban, belum pernah ada masa di mana manusia bisa berbicara semudah sekarang. Hanya butuh satu ketukan jempol, sebuah pikiran, entah itu kebijaksanaan atau sekadar amarah bisa langsung menjangkau ribuan orang. Kita menulis, membagikan, berdebat, lalu mengulangi kegilaan yang sama keesokan harinya. Teknologi memberi kita pengeras suara yang luar biasa, tetapi sambil merampas sesuatu yang sangat berharga yaitu ruang hening kita.
Persoalan kita hari ini jelas bukan karena kekurangan informasi. Kita malah sedang tenggelam dan megap-megap di dalamnya. Yang semakin mahal adalah ruang untuk mencerna. Kita bergerak begitu cepat bahkan bereaksi sebelum sempat berefleksi. Kita lebih sibuk merespons daripada memahami. Seolah-olah, harga diri kita ditentukan oleh seberapa cepat kita menyambar percakapan dan bukan seberapa dalam kita menimbang arti.
Sore itu, pertanyaan Rumi membawa kaki saya melangkah ke tepi pantai. Tidak ada yang istimewa di sana. Matahari tenggelam dengan cara yang sama seperti ribuan tahun lalu. Ombak datang dan pergi, menjilati pasir tanpa pernah merasa tergesa-gesa. Beberapa ekor burung melintas rendah, lalu lenyap begitu saja di balik batas cakrawala. Semesta terus bekerja dengan setia, tanpa peduli apakah ada manusia yang sedang mengaguminya atau tidak.
Dan anehnya, di tengah gemuruh suara ombak yang ajek itu, saya justru menemukan sebuah keheningan yang asing. Sebuah rasa damai yang tidak pernah saya jumpai bahkan di dalam kamar yang pintunya tertutup rapat.
Saat itulah saya mulai curiga. Jangan-jangan, keheningan memang tidak ada hubungannya dengan ketiadaan suara di luar diri. Yang bising selama ini ternyata bukan dunia tetapi isi kepala kita sendiri.
Kepala kita terlalu penuh oleh pikiran yang sibuk membandingkan nasib. Penuh oleh keinginan purba untuk selalu diakui, kecemasan purba karena takut tertinggal dari orang lain, serta hasrat yang meletup-letup untuk terus tampil di panggung agar tidak dilupakan. Inilah jenis kebisingan yang paling pekak, sebab ia tidak mengetuk telinga namun meremukkan jiwa dari dalam.
Dari sana, saya melihat Rumi dari sudut yang berbeda. Bahasa Tuhan yang ia maksud kemungkinan besar bukanlah rangkaian kalimat teologis yang rumit. Sebab, setiap kata ciptaan manusia selalu memikul batas dan prasangka, sementara Tuhan selalu melampaui segala definisi. Keheningan itu adalah sebuah kondisi batin ketika ego kita akhirnya bersedia turun panggung dan berhenti mendominasi percakapan. Ketika kita tidak lagi memaksa untuk menjadi pusat semesta, kita baru bisa melihat dunia ini sebagaimana adanya.
Itulah mengapa hampir semua tradisi kebijaksanaan kuno, mulai dari para sufi di padang pasir, para pertapa di sunyinya gunung hingga para filsuf yang berjalan kaki di Athena, selalu menyediakan ruang khusus untuk menyepi. Mereka memahami satu rahasia yang sering dilupakan manusia modern yaitu kejernihan batin tidak pernah lahir dari tumpukan jawaban yang instan tetapi dari kesungguhan untuk lebih lama bersama pertanyaan-pertanyaan yang sunyi.
Barangkali Tuhan memang tidak pernah benar-benar berhenti menyapa kita melalui semesta yang terbentang ini. Kitalah yang kian hari kian kehilangan telinga untuk mendengar-Nya, karena telinga kita telanjur penuh oleh gemerincing suara kita sendiri.



