back to top
Sitti Nurliani Khanazahrah
Sitti Nurliani Khanazahrah
Pegiat Literasi, Filsafat, Penulis dan Dosen
Home |

Catatan Hari Lahir

Katulistiwa.id

Tanggal 5 Juli kemarin saya mengulang hari lahir. ​Esoknya saya mengunjungi sebuah pesisir pantai seperti sebelum-sebelumnya. Sudah kebiasaan favorite. Pantai selalu menjadi tempat paling nyaman untuk merenungkan sisa usia.

Pelayan meletakkan sebotol air mineral dan selembar tagihan di atas meja kayu tempat saya bersandar. Di depan saya, orang-orang duduk berpasangan menghadap senja yang mulai karam, sementara saya memilih melipat jarak dengan diri sembari merayakan hari kelahiran yang oleh kalender disepakati sebagai sebuah penanda waktu.

​Peradaban selalu mendidik kita untuk memelihara ketakutan pada angka-angka yang bergerak maju, lalu menghibur diri dengan menumpuk daftar harapan baru di garis cakrawala. Kita dipaksa percaya bahwa hidup adalah tentang melangkah ke depan, menaklukkan ketidaktahuan dan juga memperluas kepemilikan. Seolah-olah dengan berlari lebih cepat, kita bisa menunda malam yang pasti datang.

​Namun demikian, melihat permukaan meja kayu yang membatasi ruang duduk saya ini, saya malah menemukan sebuah kontradiksi yang menggelitik. ​Kita begitu terobsesi dengan kebebasan tanpa batas, tetapi mengapa untuk menikmati keluasan laut yang tanpa sekat ini, kita tetap merasa perlu memesan sebuah meja khusus dan sepetak kursi plastik? Kita membutuhkan batas, membutuhkan penanda dan juga membutuhkan sekat-sekat kecil untuk mendefinisikan keberadaan kita di tengah kemahaluasan semesta yang sunyi.

​Manusia ternyata tidak pernah benar-benar siap menghadapi yang tak terbatas. Kita adalah makhluk ganjil yang merindukan kemerdekaan langit, tetapi di saat yang sama selalu mencari jangkar sekecil apa pun agar jiwa kita tidak hanyut, larut atau lenyap begitu saja ke dalam kekosongan. Kontras antara bisingnya keinginan kita dan sunyinya semesta justru menegaskan siapa kita sebenarnya. Kita adalah makhluk yang rapuh yang membutuhkan dinding untuk merasa ada.

​Ulang tahun pun akhirnya tidak lebih dari sekadar meja di tepi pantai ini. Sebuah batas artifisial, sebuah jeda yang sengaja kita tancapkan di tengah waktu yang terus mengalir deras tanpa nama. ​Saya lalu menyadari bahwa kegelisahan manusia yang mendalam sebetulnya bukan karena jatah usia yang menyusut, dan bukan pula karena bayang-bayang akhir yang mendekat. Itu terlalu dramatis dan klise.

Kegelisahan yang nyata adalah ketakutan jika kita ternyata gagal menjadi otentik dan penuh di dalam batas-batas kecil yang kita miliki. Kita sering kali sibuk mencemaskan luasnya samudra kehidupan, hingga lupa bagaimana cara mengelola apa yang telah ada di atas meja kita sendiri.

​Matahari kini benar-benar runtuh digantikan garis kelabu. Laut di luar sana tetap membentang luas dan dingin, juga tidak peduli pada siapa pun yang sedang menatapnya. Tetapi di atas meja kecil ini, lembaran ingatan dan pilihan-pilihan hidup saya sepenuhnya nyata. Menjadi fana tidak perlu selalu dirayakan dengan kepasrahan yang megah atau heroisme yang melelahkan. Cukup menerima segala keterbatasan diri dan tetap bersungguh-sungguh menentukan arah langkah di ruang yang sempit ini.

Tim Redaksi
Editor:
Bagikan :

Artikel Terkait

Profile

Latest Articles