back to top
Sitti Nurliani Khanazahrah
Sitti Nurliani Khanazahrah
Pegiat Literasi, Filsafat, Penulis dan Dosen
Home |

Ilusi Pertemanan Digital

Katulistiwa.id

Seorang teman bercerita. Sesaat setelah ia mengunggah sebuah postingan di media sosial, ia tidak langsung meletakkan gawainya. Biasanya ia diam memandangi layarnya dan ketika hanya ada satu atau dua tanda suka yang muncul, kesunyian lalu menerpanya.

Jemarinya mulai bergerak gelisah, refleks menyegarkan beranda berulang kali, seolah sedang menagih perhatian yang tak kunjung datang. Pada titik itulah, ia merasa sebuah tamparan batin menghampirinya dan ia mendadak merasa sangat kecil.

Saya lalu membatin. Barangkali saja kita semua mengalami hal yang sama. Betapa ringkihnya kita hari ini. Bahwa kita rela menggantungkan ketenangan jiwa dan validasi diri pada ketukan jempol orang asing di seberang sana.

Kita sering kali mengira bahwa bertukar komentar atau menyukai kiriman teman lama adalah cara merawat sebuah hubungan. Tentu saja, layar gawai hari ini bisa menghasilkan banyak hal. Mulai dari popularitas, panggung karya, hingga pundi-pundi materi. Media sosial telah menjadi ruang kerja baru yang sah bagi banyak orang untuk mendulang rezeki.

Namun demikian, sering kali juga kita lupa batasnya. Di balik segala urusan profesional atau keuntungan ekonomi yang bisa diraih dari sana, media sosial tetaplah sebuah ruang yang semu untuk urusan rasa. Kita hanya melihat apa yang ingin orang lain tunjukkan di layar, tanpa pernah benar-benar menyentuh sisi manusiawinya yang paling jujur.

Terkadang kita terjebak memperlakukan sesama seperti benda, hanya pelengkap di kolom pengikut atau pemandangan lewat di beranda. Kita kehilangan sebuah perjumpaan yang sakral, di mana dua orang benar-benar duduk bersama, saling menatap dan berbagi ruang batin yang jujur tanpa sekat layar kaca.

Dalam konteks spiritual, kegelisahan kita di depan ponsel ini sebenarnya adalah tanda bahwa jiwa kita sedang kelaparan. Ruh manusia tidak akan pernah kenyang oleh perhatian tiruan yang serba praktis. Ketika kesepian itu datang, yang kita butuhkan sebenarnya bukan riuh rendah dunia digital yang mendatangkan materi, tetapi sebuah ruang hening untuk kembali mengetuk pintu hati sendiri. Kita butuh berserah di hadapan Sang Pemilik Keheningan, lalu belajar menemui manusia lain dengan ketulusan yang nyata.

Memang hubungan di dunia digital terasa nyaman justru karena ia tidak meminta tanggung jawab moral apa pun. Pun kita bisa memilih untuk peduli hanya saat kita punya waktu luang, dan tinggal menutup aplikasi saat suasana mulai membosankan. Kita menukar kehangatan sebuah pelukan dan kehadiran yang melelahkan dengan kenyamanan palsu yang tanpa risiko.

Lewat percakapan dengan teman, saya akhirnya memahami bahwa ternyata jempol digital sebanyak apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan hangatnya genggaman tangan seorang sahabat saat badai hidup datang menghampiri. Dan bagian paling indah dari sebuah hubungan bukanlah ketika kita berhasil saling menyapa di jagat maya, tetapi ketika kita sungguh-sungguh saling hadir dan berjalan bersama di tengah rapuhnya kenyataan.

Tim Redaksi
Editor:
Bagikan :

Artikel Terkait

Profile

Latest Articles