Jakarta — Kabar membanggakan datang dari Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Putra daerah Kanreapia, Dr. Jamaluddin, menerima Penghargaan Kalpataru 2026– penghargaan tertinggi dari Pemerintah Republik Indonesia di bidang lingkungan hidup.
Kalpataru merupakan penghargaan yang diberikan kepada individu, kelompok, maupun lembaga yang menunjukkan dedikasi dan prakarsa luar biasa dalam menjaga serta melestarikan lingkungan hidup. Nama Kalpataru sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti “pohon kehidupan” (Kalpavriksha).
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan negara kepada para pejuang lingkungan yang bekerja nyata menjaga alam, memberdayakan masyarakat, dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
Bagi Jamaluddin, penghargaan yang diterima pada 11 Juni itu menjadi pengakuan atas perjalanan panjang yang dirintisnya sejak 2014 melalui sebuah rumah baca sederhana bernama Rumah Koran di Desa Kanreapia.
Berawal dari Rumah Baca
Saat itu, Jamaluddin melihat berbagai persoalan di desanya. Tingkat pendidikan masih rendah, angka putus sekolah dan pernikahan dini cukup tinggi. Sementara kesadaran petani terhadap kesehatan dan lingkungan juga masih terbatas.
Dari kegelisahan tersebut lahirlah Rumah Koran, sebuah ruang belajar yang kemudian berkembang menjadi pusat gerakan literasi lingkungan dan aksi sadar iklim.
Melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Jamaluddin mengajak anak-anak petani, pemuda tani, hingga petani senior untuk belajar bersama. Kegiatan membaca tidak hanya dilakukan di ruang belajar, melainkan pula di sungai, kebun, hingga pegunungan.
Di saat yang sama, peserta didik diajak melakukan aksi nyata seperti membersihkan sungai, menanam pohon, menjaga mata air, hingga mengenal praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Literasi dan Pertanian Berjalan Bersama
Bagi Jamaluddin, literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca buku. Literasi harus mampu menjawab tantangan kehidupan masyarakat.
Melalui Komunitas Rumah Koran, ia menggabungkan literasi lingkungan dengan pertanian berkelanjutan. Berbagai program dijalankan, mulai dari pelestarian mata air, pembangunan embung pertanian, pengembangan pertanian organik, penghijauan, pemanfaatan pekarangan rumah untuk tanaman obat keluarga (TOGA), hingga pengembangan pertanian terpadu.
Seiring waktu, Rumah Koran tumbuh menjadi komunitas literasi lingkungan yang dikenal luas dan menjadi tempat belajar bagi berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi Selatan.
Gerakan Berbagi untuk Ketahanan Iklim
Seluruh aktivitas Rumah Koran dirangkum dalam semangat “Berbagi” yang menjadi fondasi gerakan mereka. Pertama, berbagi ilmu, melalui edukasi mengenai adaptasi perubahan iklim, penggunaan bibit unggul, pengelolaan air, pembangunan embung, hingga manajemen pertanian yang efisien.
Kedua, berbagi alat pertanian, seperti pupuk organik, sprinkler, drum air, traktor, cangkul, caping, lampu panel surya, dan mesin pompa air untuk mendukung produktivitas petani.
Ketiga, berbagi informasi, dengan mempromosikan potensi pertanian Desa Kanreapia melalui media sosial, pameran, dan berbagai forum publik.
Keempat, berbagi hasil panen, melalui program Sedekah Sayur yang telah menjangkau sekitar 100 panti asuhan di Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Takalar, dan Kabupaten Maros. Program ini menjadi bukti bahwa pertanian tetap produktif meski menghadapi tantangan perubahan iklim.
Desa dengan Tiga Identitas
Dampak gerakan yang dirintis Jamaluddin tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sekitar. Desa Kanreapia kini dikenal dengan tiga identitas sekaligus, yakni sebagai Desa Sejahtera Astra, Kampung Sayur, dan Kampung Iklim.
Rumah Koran pun berkembang menjadi lokasi studi dan pembelajaran bagi berbagai kampus serta komunitas yang ingin mempelajari praktik literasi lingkungan berbasis masyarakat.
Apresiasi dari Pemerintah
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gowa, Azhari Azis, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.
Menurutnya, penghargaan Kalpataru menjadi bukti bahwa kepedulian dan semangat seorang anak muda mampu menghadirkan perubahan nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
“Jamaluddin telah menunjukkan kepeloporan dan komitmen luar biasa dalam menjaga lingkungan hidup, khususnya di kawasan dataran tinggi Desa Kanreapia. Apa yang telah dilakukan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya,” kata Azhari.
Dipersembahkan untuk Kanreapia
Jamaluddin mengaku bersyukur dan tidak menyangka gerakan yang dirintis dari sebuah rumah baca sederhana mampu mengantarkannya meraih penghargaan lingkungan tertinggi di Indonesia.
Ia menegaskan, penghargaan tersebut bukan hasil kerja seorang diri, melainkan buah dari dukungan banyak pihak yang selama ini membersamai perjuangannya.
Ucapan terima kasih ia sampaikan kepada masyarakat Desa Kanreapia, Pemerintah Kecamatan Tombolo Pao, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gowa, PT Astra International, Satbrimob Polda Sulawesi Selatan, serta berbagai pihak lainnya yang terus mendukung program literasi lingkungan dan aksi sadar iklim.
“Penghargaan Kalpataru ini saya persembahkan untuk desa saya tercinta, Kanreapia,” pungkas Jamaluddin.



