Setiap anak memiliki mimpi. Namun, tidak semua anak memiliki keberanian untuk menggantungkan mimpinya setinggi langit ketika kondisi ekonomi keluarga menjadi batas yang sulit ditembus.
Tahun 2013 menjadi salah satu titik penting dalam hidup saya. Saat itu saya baru saja menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tahane, yang kini dikenal sebagai MAN 1 Halmahera Selatan, di Desa Dauri, Kecamatan Pulau Makean. Setelah pengumuman kelulusan, saya kembali ke kampung halaman, Desa Ngokomalako, Kecamatan Kayoa Utara.
Hari-hari setelah kelulusan dipenuhi percakapan tentang masa depan. Teman-teman seangkatan mulai membicarakan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi anggota Polri, dokter, pengusaha, dan banyak pula yang bersiap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Saya hanya menjadi pembaca diam di grup percakapan kami. Tapi bukan karena tidak memiliki mimpi. Saya juga ingin melanjutkan pendidikan seperti mereka. Namun, ada keraguan yang terus bercokol dalam pikiran. Selama berada di rumah, tak sekalipun kedua orang tua saya menanyakan rencana atau cita-cita saya setelah lulus SMA.
Dalam diam, saya mencoba memahami keadaan. Mungkin ekonomi keluarga memang sedang tidak baik-baik saja, sehingga kuliah adalah sesuatu yang terlalu jauh untuk kami jangkau.
Karena itulah, perlahan saya mulai mengubur impian tersebut. Saya memilih berpikir untuk membantu orang tua, bekerja, dan ikut membangun rumah keluarga yang saat itu masih sangat sederhana.
Namun, malam itu mengubah segalanya. Sekitar pukul 02.00 WIT, ayah membangunkan saya dan ibu. Kami duduk di ruang tamu yang hanya diterangi lampu loga-loga. Saya dan ibu saling berpandangan, bingung sekaligus bertanya-tanya. “Ada apa malam-malam begini?” batin saya.
Suasana hening beberapa saat sebelum ayah akhirnya membuka percakapan. “Ngana harus kuliah,” katanya singkat.
Kalimat itu sederhana tetapi bagi saya, kalimat tersebut terasa seperti cahaya yang tiba-tiba menerobos gelapnya keraguan yang selama ini saya simpan. Saya terdiam, bahagia, haru, dan rasa tidak percaya bercampur menjadi satu.
Setelah mengucapkan kalimat itu, ayah berdiri dan keluar rumah. Entah ke mana. Sekitar dua puluh menit kemudian, ia kembali. Saat itu saya dan ibu masih membicarakan kemungkinan saya melanjutkan pendidikan.
Tanpa banyak bicara, ayah menyodorkan uang kepada saya Rp150 ribu. “Itu ngana pe tiket. Pergi cari informasi pendaftaran kuliah. Nanti kabari papa, nanti papa kirim uang untuk pengurusan,” ujarnya.
Saya kembali terdiam. Malam itu saya menyaksikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar uang yang diberikan. Saya melihat keyakinan seorang ayah yang sedang memperjuangkan masa depan anaknya.
Tak lama kemudian, ayah kembali berbicara: “Saya mau buktikan bahwa papa mampu kase sekolah ngoni semua. Biar rumah model begini, tapi papa yakin mampu kase sekolah pe ngoni. Jadi besok ngana pakai sepatu, celana panjang, dan kemeja. Biar papa tunjukkan ke orang-orang bahwa papa bisa sekolahkan anak-anak papa.” Saya masih mengingat setiap kalimat itu hingga hari ini.
Keesokan paginya, sekitar pukul 07.20, saya mengikuti semua arahan ayah. Ketika Kapal KM Tiga Lalu yang menuju Ternate bersandar, ayah menggendong saya menaiki bodi ketinting menuju kapal.
Pemandangan itu mengundang perhatian warga yang berada di sekitar pantai. Mereka melihat saya yang berpakaian rapi, bersiap merantau untuk mengejar pendidikan demi masa depan. “Belajar yang baik. Sukses, dan buktikan kepada orang-orang di sini!” teriak salah seorang warga memberi semangat.
Di tengah hiruk-pikuk keberangkatan itu, tibalah saat perpisahan. Saya berdiri di atas bodi ketinting sambil menatap ayah. Untuk pertama kalinya saya melihat lelaki yang selama ini tampak begitu kuat itu menangis. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Ba info di papa, ee.”
Air mata ayah pecah. Dan saat itu pula, air mata saya tak lagi mampu dibendung. Saya melambaikan tangan ke arah ayah, ibu, keluarga, dan masyarakat yang berdiri di tepi pantai. Dalam tangis yang semakin deras, saya berteriak, “Papa, saya pamit dulu. Sehat-sehat terus, Papa.”
Itulah kalimat terakhir yang saya ucapkan sebelum perjalanan dimulai. Di pintu kapal, saya masih berdiri dan menatap tanah kelahiran hingga tak terlihat. Air mata tumpah membayangkan ayah dan ibu.
Hari itu saya berlayar meninggalkan kampung halaman. Tetapi yang sesungguhnya saya bawa bukan sekadar tiket kapal atau uang saku. Saya membawa doa, harapan, dan pengorbanan seorang ayah yang percaya bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan anaknya.
Kini, setiap kali mengenang peristiwa itu, saya menyadari bahwa banyak orang tua mungkin tidak memiliki harta yang melimpah. Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: keyakinan dan cinta yang tak pernah berhenti mendorong anak-anaknya untuk meraih mimpi.
Dari seorang ayah sederhana di kampung kecil itu, saya belajar bahwa terkadang dorongan terbesar untuk menggapai cita-cita lahir dari pengorbanan yang dilakukan dalam diam***



