back to top
Sitti Nurliani Khanazahrah
Sitti Nurliani Khanazahrah
Pegiat Literasi, Filsafat, Penulis dan Dosen
Home |

Epistemologi Islam dan Tradisi Berpikir Kritis

Katulistiwa.id

Bicara soal epistemologi, saya kembali menyadari bahwa manusia ternyata tidak hidup dari apa yang ia ketahui. Manusia lebih hidup dari bagaimana ia memperlakukan pengetahuannya.

Kemarin di DAM Nasional IMM Gowa, saat kami mengobrol soal epistemologi Islam dan nalar kritis, saya terus memikirkan satu hal yang cukup krusial. Bahwa masalah kita hari ini bukan kekurangan informasi, tetapi kita tenggelam di dalamnya.

Semua orang bisa bicara apa saja. Bahkan semua orang mendadak punya panggung untuk kelihatan pintar. Tetapi jika diamati lagi, kita sebenarnya justru sedang kehilangan sesuatu yang sangat mewah yaitu kedalaman.

Kita mendadak jadi pengamat yang gampang menyimpulkan apa saja. Gampang percaya dan gampang tersinggung. Bahkan yang lebih melelahkan adalah gampang merasa paling benar. Padahal jika mau jujur pada diri sendiri, kebanyakan keributan di sekitar kita muncul bukan karena kebenaran sudah ditemukan, tetapi karena kita terlalu ketakutan.

Dalam hal ini, epistemologi menjadi sangat penting karena ia mempertanyakan hal mendasar seperti bagaimana kita mengetahui bahwa apa yang kita yakini sekarang itu memang benar. Jangan-jangan itu hanya warisan. Atau hanya karena orang-orang di sekitar kita mengiyakannya. Atau jangan-jangan karena itu menguntungkan kelompok kita saja.

Kita sering kali cemas. Manusia memang suka kenyamanan dan kepastian. Itulah mengapa banyak yang lebih memilih membela identitas kelompok daripada repot-repot mencari kebenaran. Dunia hari ini memang terlalu bising untuk mendengar perspektif yang jernih. Informasi bertubrukan tiap detik. Semua orang berteriak ingin didengar namun hampir tidak ada lagi yang menyukai merenung. Kita lalu perlahan kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan diri sendiri.

Padahal dalam tradisi Islam, berpikir itu bagian dari ibadah batin. Sebuah jalan kesadaran. Bahkan wahyu pertama dibuka dengan kata Iqra. Bacalah. Dan perintah itu jelas bukan hanya soal mengeja huruf di atas kertas, tetapi lebih untuk membaca sejarah, membaca manusia, membaca realitas dan yang paling berat adalah membaca diri sendiri.

Kita bisa tahu banyak hal tentang dunia luar tetapi mendadak jadi orang asing di dalam batin kita sendiri. Padahal Al-Qur’an tidak sedang menyuruh kita jadi penurut yang ketakutan. Iman yang matang justru lahir dari kesungguhan untuk terus bertanya dan mencari.

Menurut saya, menjadi kritis bukan berarti kita menjadi orang yang hobi mendebat atau menjatuhkan argumen orang lain. Menjadi kritis itu adalah berani memeriksa isi kepala sendiri. Sebab musuh terbesar kita sering kali bukan kebodohan, melainkan rasa puas karena merasa sudah tahu segalanya.

Semoga kita tidak pernah lelah mencari makna. Tidak berhenti berpikir. Dan tetap punya nyali untuk merunduk di hadapan kebenaran yang luas.**

Tim Redaksi
Editor:
Bagikan :

Artikel Terkait

Profile

Latest Articles