back to top
M. Kubais M. Zeen
M. Kubais M. Zeen
Penulis dan Editor
Home |

Membaca dan Gaya Hidup Remaja Urban

Katulistiwa.id

Jika dunia ingin mengenalku, mereka bisa mengetahui melalui buku ini. Jika mereka tidak sepaham denganku, semuanya bisa melalui buku ini.”

Saya menyukai dan mencatat dalam catatan harian pesan terakhir guru Kong yang diperankan aktor kenamaan Chow Yun Fat dalam film Confucius itu. Dalam renungan saya, pesan ini mengandung makna, hanya dengan membaca kita mengenal diri dan gagasan penulisnya, juga sikap kita atas gagasannya: sejalan atau bertolak belakang.

Membaca, seperti dikatakan motivator muslim terkenal Dr. Ibrahim Elfiky dalam buku terakhirnya, Excellent Life, ialah awal dari pengetahuan dan pengajaran yang melesat sepanjang zaman. Memekarkan daya nalar, pikiran, konsentrasi, empati, dan simpati. Membaca—meminjam ungkapan Alwy Rachman, ialah vitamin bagi jiwa.

Aktivitas yang di zaman lampau hanya dapat dilakukan oleh kalangan atas ini, dalam perkembangan zaman dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja. Bebas. Orang di Negeri Sakura terkenal gila membaca sehingga dalam kereta api atau mobil bus pun, mereka tetap membaca terutama komik yang disediakan gratis oleh pemerintah di salah satu raksasa ekonom dunia ini.

Beberapa waktu lalu Andi Malarrangeng harus memesan novel Inverno, karya terbaru Dan Brown untuk menemani kesunyian jiwa dan pikirannya di balik terali besi Komisi Pemberantasan Korupsi.

Pada 1865-1869 Karl May meringkuk dalam penjara Osterstein Castle (Zwickau). Di sini, ia membaca nyaris habis isi perpustakaan terutama buku-buku perihal petualangan. Setelah bebas, ia menulis cerita legendaris Winneatou yang men-dunia-kan namanya hingga kini dan mungkin seterusnya.

Dr. Soedjatmoko, seorang putra terbaik bangsa yang pernah menjabat Rektor Universitas PBB di Tokyo selama dua periode. Sewaktu mahasiswa, Soedjatmoko pernah membaca sebagian besar isi perpustakaan penjara ketika meringkuk di dalamnya karena menentang kesewenang-wenangan kolonoal Belanda. Ketika kuliah di Mesir dan Irak, Gus Dur lebih banyak menghabiskan waktunya membaca hampir habis buku-buku di perpustakaan.

“Kegilaan” membaca juga terbaca dalam sejarah kehidupan Tan Malaka. Di tengah kecamuk perang, pemikir dan penulis buku Madilog ini tetap membaca di balik bunker persembunyiannya. Adapun pendiri bangsa sekaliber Mohammad Hatta, separuh waktunya di pengasingan tersita hanya untuk menelusuri aksara dan menulis.

Kecuali Karl May. Mohammad Hatta, Soedjatmoko, Gus Dur, Tan Malaka, dan Andi Mallarrangeng ialah contoh segelintir orang di negeri ini yang hidupnya tak bisa dipisahkan dari aktivitas membaca. Bagi mereka, membaca layaknya kebutuhan hidup utama lainnya, yang tak bisa ditunda pemenuhannya.

Kini, di tengah sorotan miring atas tradisi membaca yang kian terbenam, muncul secercah asa di Kota Surabaya. Remaja di kota ini makin giat mengunjungi toko buku dan menunjukkan grafik menaik.

Fenomena itu menarik hasrat penelitian Rahma Sugihartai. Dengan menggunakan perspektif Cultural Studies, Rahma menelisik lebih jauh guna menyingkap ihwal tersembunyi di balik kesenangan membaca remaja urban.

Rahma menemukan dua hal utama yang mendorong kesenangan membaca remaja urban di luar buku pelajaran. Yaitu, remaja yang membaca karena tuntutan gaya hidup—disebut pseudo-adiktif, dan remaja yang membaca karena kebutuhan hidup—disebut riil-adiktif.

Tipe pembaca pseudo-adiktif bersifat temporer, tergantung cita rasa. Mereka membaca karena enggan dicap kuno, tak gaul, dan ketinggalan informasi oleh remaja lainnya. Mereka hanya memburu dan membaca buku novel, komik, dan majalah tertentu yang bernuansa popular dan gaya hidup. Apalagi novel yang diangkat ke layar lebar. Selain menonton filmnya, mereka juga memburu pernak-pernik merchandise film ini.

Lain halnya tipe pembaca riil-adiktif. Dalam membaca, mereka tak membatasi diri seperti para pseudo-adiktif, sebab membaca merupakan kebutuhan hidup yang wajib dipenuhi. Mereka kerap menjadi rujukan bagi remaja lainnya dalam hal buku-buku yang menarik.

Studi ini menemukan, membaca pada hakikatnya ialah bagian dari gaya hidup dan aktivitas yang menyenangkan.
***
Setiap mengunjungi toko buku favorit di kota ini (Makassar), saya selalu menyempatkan diri mampir pada area buku-buku fiksi. Selain mencari buku fiksi terbaru, dan buku fiksi tua karya sastrawan zaman lampau yang dicetak ulang, kerap saya “menjumpai” sejumlah remaja, kebanyakan perempuan yang serius menelusuri judul-judul buku.

Apakah mereka tergolong tipe pembaca pseudo-adiktif atau riil-adiktif seperti temuan Rahma Sugihartati? Saya belum menemukan jawabannya, belum ada riset serupa di sini. Tapi, bagi saya fenomena ini jauh lebih penting ketimbang remaja yang alergi membaca buku.

Rahma mengatakan, untuk menumbuhkembangkan gairah membaca di kalangan remaja, langkah awal yang dibutuhkan ialah kesediaan untuk memahami bahwa aktivitas membaca benar-benar harus menjadi bagian dari aktivitas dan proses pembelajaran yang menyenangkan. Di samping itu, memuseumkan cara instruktif, menghukum, dan mewajiban membaca hanya pada anak. []

(Esai ini dimuat pertama kali di Kolom Literasi Koran TEMPO Edisi Makassar, 30 November 2013)

Tim Redaksi
Bagikan :

Artikel Terkait

Profile

Latest Articles