back to top
Herman Oesman
Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
Home |

Budaya Cukup

Katulistiwa.id

“…Budaya cukup… merupakan cara hidup yang memberi ruang bagi kesadaran…
dan tanda hubungan kita dengan bumi, petani, air, semua makhluk yang terlibat dalam prosesnya…”

Tulisan ini lahir dari pengalaman penulis tatkala hadir dalam berbagai acara. Terutama di banyak ruang sosial kita. Mulai dari pesta pernikahan, hajatan, syukuran, tahlilan hari ketujuh/kesembilan, khitanan, hingga rapat-rapat besar dan kecil di kantor, kampus, dan sejenisnya, terdapat satu pola yang terus berulang. Kita mengambil lebih dari yang dibutuhkan. Piring penuh, gelas terisi ulang berkali-kali dengan minuman beragam, hidangan dan sampah sisa makanan ber(di)tumpuk tak beraturan, lalu sebagian besar tak habis dimakan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di desa hingga kerumunan komunitas yang dikenal dengan semangat guyub, tulus ikhlas. Di sinilah kita perlu menggugat secara kritis, mengapa kita susah sekali membangun budaya cukup, sekali lagi, budaya cukup?

Sejalan dengan realitas ini, antropolog terkemuka Marcel Mauss (2016: 17) pernah menulis buku The Gift (telah diterjemahkan dengan judul Pemberian) sebagai relasi sosial yang menunjukkan kehormatan dan gengsi. Dalam konteks kita, makanan yang berlimpah di acara acapkali dipahami sebagai tanda kemurahan hati, bahkan kekuasaan simbolik. “Semakin banyak, semakin baik”, begitulah logika yang beroperasi dan bekerja dalam banyak benak masyarakat kita. Dalam pesta, tuan rumah merasa malu apabila hidangan terlihat “pas-pasan”. Mereka takut dianggap pelit atau tidak mampu.

Namun, di sisi lain, manusia modern memasuki paradoks konsumsi. Seperti diperingatkan oleh Zygmunt Bauman (2011), masyarakat konsumen selalu hidup dalam ketidakcukupan psikologis. Selalu ingin lebih, selalu takut kekurangan. Budaya acara kita akhirnya membentuk habitus serupa. Mengambil lebih karena ketakutan simbolik akan dinilai kurang.

Sisi Gelap

Persoalan terbesar dari mengambil lebih adalah limbah. Data FAO menunjukkan bahwa sepertiga makanan dunia terbuang setiap tahun (FAO, 2020). Di Indonesia, komposisi sampah makanan mencapai 44% dari total sampah nasional (Bappenas, 2021). Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi cermin betapa “berlebih” telah menjadi praktik budaya.

Dalam acara-acara yang kita gelar, tumpukan sisa makanan menjadi pemandangan biasa. Tidak jarang, makanan yang masih layak pun akhirnya berakhir di tempat sampah. Fenomena ini bukan hanya membuang rezeki, tetapi juga memperburuk emisi gas metana dari pembuangan organik (IPCC, 2022). Kita lupa bahwa makanan bukan sekadar objek konsumsi, tetapi hasil perjalanan panjang. Tanah, air, tenaga petani, distribusi, dan energi yang menggerakkannya.

Mengapa orang mengambil lebih banyak makanan dalam acara? Setidaknya ada tiga faktor. Pertama, rasa takut tidak kebagian. Dalam kerumunan, naluri kompetitif muncul. Penelitian Wansink (2014) menunjukkan bahwa individu cenderung mengambil porsi lebih besar ketika berada dalam situasi sosial karena merasa perlu “mengamankan” makanan.

Kedua, dorongan untuk memenuhi ekspektasi sosial. Orang mengambil lebih karena melihat orang lain melakukannya. Ia menjadi norma tak tertulis.

Ketiga, ketidakmampuan menilai batas kebutuhan diri. Budaya visual dalam penyajian makanan, meja penuh, warna-warni menu, aroma yang menggoda, mendorong konsumsi impulsif. “Ambil saja dulu,” begitu kalimat umum yang terdengar di acara.

Budaya cukup sesungguhnya merupakan persoalan etika. Dalam tradisi agama-agama besar, konsep moderasi atau qana’ah telah lama dijunjung. Namun, dalam praktik sosial modern, nilai itu kerap terkikis. Kita tidak lagi makan untuk cukup, tetapi makan sebagai performativitas. Menunjukkan kehormatan, memenuhi hawa nafsu, atau meniru kebiasaan orang lain.

Sosiolog Anthony Giddens (2013) mengingatkan, bahwa manusia modern acapkali kehilangan pengendalian diri dalam praktik sehari-hari karena hidup dalam sistem yang selalu mendorong ekspansi, bukan pengurangan. Dalam konteks acara, kita melihat bagaimana makanan menjadi bagian dari “pertunjukan identitas” bukan sekadar kebutuhan.

Membangun budaya cukup berarti melakukan transformasi kecil namun signifikan. Terdapat beberapa langkah etis dan praktis untuk bisa dipraktikkan.

Pertama, mengambil sesuai porsi. Ini bukan sekadar saran moral, tetapi tindakan politik kecil untuk menantang budaya berlebih. Mengambil secukupnya merupakan bentuk perlawanan terhadap logika konsumtif.

Kedua, mengubah desain penyajian. Penelitian Thaler & Sunstein (2018) menunjukkan bahwa nudges atau dorongan kecil dapat memengaruhi perilaku konsumsi. Penyajian makanan dalam porsi kecil, piring lebih kecil, atau sistem “ambil dua dulu, kembali lagi jika kurang” dapat mengurangi pemborosan hingga 30%.

Ketiga, mengajarkan etika konsumsi sejak kecil. Keluarga dan sekolah perlu mengajarkan bahwa cukup merupakan sebuah nilai. Anak-anak acapkali meniru orang dewasa yang mengambil makanan berlebih. Perubahan budaya dimulai dari rumah.

Ketiga, mengelola sisa makanan secara bertanggung jawab. Sisa makanan layak konsumsi dapat dibagikan; sisanya diolah menjadi kompos atau pakan ternak. Sekecil apa pun, ini membantu mengurangi emisi.

Bangun Narasi Baru

Kita perlu mengganti narasi lama, bahwa kehormatan hadir dari kelimpahan. Di era krisis iklim, kehormatan justru hadir dari kemampuan mengelola sumber daya secara bijak. Hidangan yang tidak terbuang jauh lebih terhormat daripada meja penuh makanan yang akhirnya menjadi sampah.

Sebagaimana dikatakan Kate Raworth, masa depan harus dibangun dalam “doughnut economy” batas cukup yang menjaga keberlanjutan (Raworth, 2017: 52–57).

Budaya cukup merupakan terjemahan sosial dari konsep tersebut. Tidak kurang, tidak berlebih.

Budaya cukup bukan ajakan untuk hidup miskin atau membatasi kebahagiaan. Ia merupakan cara hidup yang memberi ruang bagi kesadaran. Makanan yang kita ambil merupakan tanda hubungan kita dengan bumi, dengan petani, dengan air, dengan semua makhluk yang terlibat dalam prosesnya.

Di setiap acara, di balik tawa dan musik, ada momen ketika seseorang menatap piringnya dan menyadari, cukup merupakan keindahan yang terlalu lama kita lupakan. Dalam budaya cukup, kita merayakan hidup tanpa meninggalkan jejak berlebih yang tak perlu.[]

Tim Redaksi
Editor:
Bagikan :

Artikel Terkait

Profile

Latest Articles