back to top
Sitti Nurliani Khanazahrah
Sitti Nurliani Khanazahrah
Pegiat Literasi, Filsafat, Penulis dan Dosen
Home |

Benarkah Ikhlas Selalu Tanda Kedewasaan?

Katulistiwa.id

Saya sangat menyukai ketenangan. Bahkan cenderung menghindari kegaduhan. Tetapi belakangan, entah kenapa ketenangan mulai membuat saya ragu. Bukan karena ia tidak lagi indah melainkan karena kemunculannya terlalu cepat.

Seolah segala yang terjadi memang harus segera diberi nama seperti takdir, penerimaan ataupun keikhlasan. Dan siapa pun yang belum sampai ke sana, kita lalu menganggapnya belum dewasa.

Kata ikhlas sering kali terdengar seperti akhir dari percakapan. Setelah ia diucapkan, pertanyaan lalu mengecil dengan sendirinya. Luka diminta tenang dan hati harus selalu terukur. Kita pun belajar percaya bahwa diam adalah bentuk kematangan.

Saya pun pernah mengatakannya. Bukan karena sudah selesai, tetapi karena waktu itu saya lelah. Lelah menjelaskan, lelah dianggap belum kuat, dan sejenisnya. Dalam tradisi kita yang memuja ketenangan, kegelisahan terasa seperti sesuatu yang harus segera disembunyikan.

Padahal di balik pengakuan “saya sudah ikhlas,” sering kali ada rasa yang belum diberi tempat. Rasa itu tidak berisik, hanya tinggal sebagai beban kecil yang tak pernah benar-benar pergi. Seperti kalimat yang diakhiri begitu saja sebelum sempat benar-benar dipahami.

Lalu perlahan saya bertanya pada diri sendiri. Jangan-jangan keikhlasan tidak selalu lahir dari kejernihan, tetapi dari kelelahan. Dari keinginan untuk segera tampak matang, meski hati masih tertinggal di belakang.

Tidak semua kegelisahan adalah tanda ketidakdewasaan. Ada kegelisahan yang justru jujur bahwa hati belum siap berdamai, atau mungkin memang belum seharusnya. Karena damai yang tergesa-gesa sering kali hanya kelihatan rapi dari luar tetapi retak di dalam.

Mungkin yang perlu kita jaga bukan keikhlasan yang terlalu terburu-buru tetapi kejujuran walaupun perlahan. Dan jika suatu hari keikhlasan itu datang, biarlah ia tumbuh dari pemahaman dan bukan dari paksaan.

Dan jika ia belum datang, barangkali itu bukan kekurangan apa pun, tetapi hanya tanda bahwa ada hal yang masih perlu diperlakukan dengan lebih lembut di dalam diri. Karena kedewasaan mungkin bukan tentang seberapa cepat kita ikhlas, tetapi seberapa jujur kita bersabar dalam pertanyaan.**

Tim Redaksi
Editor:
Bagikan :

Artikel Terkait

Profile

Latest Articles