back to top
M. Kubais M. Zeen
M. Kubais M. Zeen
Penulis dan Editor
Home |

Air yang Tersisa di Jari Telunjuk

Katulistiwa.id

Dikisahkan, suatu siang seorang guru sufi mendengar keriuhan dan kegaduhan yang melanda desanya. Teriakan manusia menggema di udara. Suasana hingar bingar. Ditambah suara ringikan kuda, lenguhan sapi dan kerbau, serta embikan kambing.

Penduduk desa sedang dikecam rasa takut dan kalut yang sangat. Sang guru sufi yang sedang asyik berzikir di gubuknya pun terusik. Ia berhenti, dan keluar ingin melihat apa yang sedang terjadi.

Dari kejauhan indranya menangkap beberap tentara kerajaan sedang menjarah uang orang-orang desanya. Mereka yang tak punya uang dirampas ternaknya. Yang berani menentang ditendang, dihajar.

Guru sufi masuk ke dalam gubuknya, berzikir. Siangnya, orang-orang desa menemuinya, mengeluhkan kekejaman yang dilakukan sang raja kepada mereka.

Entah bagaimana, dua hari kemudian, guru sufi dijemput seorang utusan raja. Raja ingin bertemu dengannya di istana. Guru sufi tak keberatan. Raja senang bukan kepalang dengan kedatangan guru sufi yang amat sederhana penampilannya.

Setelah lama berbincang, raja menyuruh pembantunya mengambil sekantung uang untuk diberikan kepada guru sufi. Tapi tak disangka, guru sufi menolaknya secara halus. “Saya kira Baginda lebih layak menerima pemberian itu.”

“Kenapa begitu?” tanya raja penuh keheranan. “Karena sang rajalah orang yang termiskin di negeri ini,” guru sufi itu menjawab. Raja termenung, guru sufi pun berlalu meninggalkannya.

Kisah syarat hikmah itu saya petik dan permak seperlunya dari cerita “Raja Termiskin,” dalam buku Tasirun Sulaiman, Berkuasa atau Menindas, terbitan Inti Medina, 2010. Keputusan guru sufi menolak hadiah sekantung uang itu mengingatkan saya nasihat sastrawan Ronggowarsito.

Ketika kamu menemukan zaman edan (gila), zaman di mana persoalan etika dan moral diabaikan, maka janganlah sekali-kali kamu terlibat di dalamnya. Sebab meskipun beruntung mereka yang terlibat, namun lebih beruntung adalah yang tidak melibatkan diri dan tetap ingat kepada Tuhan.”

Berabad-abad sebelum Ronggowarsito, Nabi Muhammad telah meletakkan fondasi hidup mulia dengan kejujuran dan kerja keras sebagai teladan bagi manusia. Kejujuran dan kerja keras mengantarkannya menjadi orang terkaya, tapi kekayannya diperuntukkan untuk membantu manusia, terutama yang miskin dan lemah.

Di ranah Sulawesi Selatan, sejak dulu pun, kehidupan orang Bugis-Makassar selalu bersandar pada nilai-nilai budaya luhur, yang berintikan siri’ na pesse. Nilai yang intinya tak jauh berbeda dengan teladan Nabi, penolakan guru sufi, dan nasehat Ronggowarsito.

Tapi, pancaran nilai-nilai hidup mulia itu makin redup dalam relung kehidupan penduduk di zaman kini. Di negeri yang mayoritas penduduknya percaya dan selalu memuja kebesaran Tuhan di setiap waktu. Yang mati-matian membela Nabi-nya bila sedikit dilecehkan.

Yang laris manis bak kacang goreng justru kisah raja yang merampok harta-benda penduduknya. Dari waktu ke waktu, dengan segala cara “raja-raja” modern berlomba-lomba merampas kekayaan negara dan rakyat.

Tiga tahun lalu, riset sebuah organisasi non-pemerintah yang kredibel menempatkan Sulawesi Selatan dalam jajaran provinsi terkorup di Indonesia. Setahun sebelumnya, ahli hukum pidana Marwan Mas, menyebut pengadilan di sini laksana surga para koruptor lantaran gampang membebaskan koruptor dari jerat hukum.

Predikat memalukan ini nampaknya belum beranjak, sebab perilaku korupsi dari yang kecil hingga besar masih mewarnai layar dan halaman media yang menyapa kita hingga kini.

Mereka, seperti punya seribu nyawa, makin ditebas, kian tumbuh—meminjam  pribahasa “patah satu tumbuh seribu.” Tak berlebihan Yusril Ihza Mahendra mengingatkan bahwa korupsi, kini  telah keluar dari batas nalar.

Fenomena itu, di mata ulama termasyhur Imam Al-Ghazali, akibat nafsu dibiarkan liar menguasai akal. Bukan sebaliknya, akal berkuasa atas nafsu. Di sinilah, kata sang penulis Ihya al-Ulumuddin, derajat manusia berada di titik nadir kehinaan. Satwa paling melata sekalipun jauh lebih mulia daripada manusia tipe ini.

Cendekiawan muslim M. Quraish Shihab mengatakan, akal adalah utusan kebenaran, kendaraan pengetahuan, serta pohon yang membuahkan istiqomah dan konsistensi kebenaran. Manusia dapat disebut manusia jika sudah punya akal.

Tiada agama tanpa akal, tiada agama tanpa rasa malu. Akal dinamai Alqur’an ‘aql, secara harfiah berarti tali yang mengikat nafsu manusia dan menghalanginya terjerumus ke dalam dosa, pelanggaran dan kesalahan, demikian M. Quraish Shihab dalam buku, Dia Di Mana-mana.

Manusia beragama (teis) amat peduli penderitaan dan tak kuasa memeras sesamanya. Jika terjadi sebaliknya, mereka disebut ateis praktis, demikian Thomas J.J. Altizer dan William Hamilton, Majalah Basis, September-Oktober, 1997.

Korupsi seperti dalam kisah raja termiskin yang menginspirasi kehidupan “raja-raja” modern, memang bergelimang materi, tapi itu diumpamakan oleh Nabi seperti air yang tersisa di jari telunjuk usai dicelupkan ke dalam lautan luas. Tak berarti secuil pun. Dengarlah potongan syair lagu Slank….”hidup bermewah-mewahan, punya segalanya tapi sengsara, seperti para koruptor.”

(Esai ini pertama kali terbit di Kolom Literasi Koran TEMPO Makassar, 13 Juli 2013. Dikategorikan terbaik, diterbitkan dalam buku berjudul Esai Tanpa Pagar: 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013).

Tim Redaksi
Bagikan :

Artikel Terkait

Profile

Latest Articles