Rumah itu berdiri sederhana di jalan belakang kampung, di tepi tebing. Atapnya dari katu (daun rumbia), dindingnya dari gaba (batang rumbia), dan berlantai tanah yang mengeras saat kemarau, lalu berubah lembek ketika hujan datang.
Seiring waktu, atap, dinding dan kayunya mulai rapuh sehingga tak lagi berdiri tegak. Jika tak ditopang puluhan kayu baru yang mengelilingi, sudah pasti runtuh.
Di situlah kami tumbuh, belajar mengenal hidup jauh sebelum memahami arti perjuangan.
Setiap musim hujan tiba, rumah itu seperti kehilangan kemampuannya untuk melindungi. Air menetes dari sela-sela atap, jatuh perlahan ke lantai tanah yang berubah becek. Kami memindahkan tikar ke sudut yang masih kering, lalu kembali berbaring sambil berharap hujan segera reda.
Tetapi hujan sering kali lebih kuat dari harapan. Malam-malam kami dipenuhi suara rintik yang memukul atap rapuh. Tubuh basah, selimut lembap, dan udara dingin yang menyusup hingga ke tulang.
Kami tidur dalam keadaan seperti itu karena memang tak ada pilihan lain. Di luar rumah, gelap menguasai kampung. Belum ada listrik. Hanya lampu loga-loga (lampu pelita/teplok tradisional sumbu pendek berbahan minyak tanah) yang menyala redup, menggantung di sudut ruangan seperti menahan sisa-sisa terang agar malam tidak sepenuhnya gelap.
Ayah dan ibu menjalani hidup sebagaimana kebanyakan orang kampung pada masa itu, bekerja tanpa banyak bicara. Ayah mengurus kebun kelapa. Ibu menanam tanaman musiman yang hasilnya cukup untuk mengisi dapur beberapa hari. Tidak ada yang berlebih. Bahkan untuk bermimpi pun, kami harus berhitung.
Saat saya dan adik masih duduk di bangku sekolah dasar, kebutuhan sekolah sering kali menjadi persoalan yang sulit dipecahkan. Buku tulis, pena, dan seragam adalah barang-barang sederhana yang kadang terasa begitu mahal bagi keluarga kami.
Menjelang ujian semester, saya dan adik tidak memiliki buku maupun alat tulis. Malam itu, dalam kepolosan yang bercampur putus asa, kami mengambil empat buah kelapa milik tetangga. Kami menjualnya demi membeli kebutuhan sekolah.
Kami mengira persoalan akan selesai setelah buku berada di tangan. ternyata kami salah. Pagi harinya, kabar kehilangan kelapa menyebar. Tetangga yang membeli kelapa mengaku bahwa kamilah yang menjualnya. Tak lama kemudian, ayah mengetahui semuanya.
Saya masih mengingat wajahnya pagi itu. Baru bangun tidur, kain sarung masih melilit pinggangnya, tetapi kemarahan telah lebih dulu terjaga daripada dirinya. Kami dipanggil. Tidak ada penjelasan panjang, dan kesempatan untuk membela diri.
Pukulan datang bertubi-tubi. Setelah itu saya diikat dengan tali jemuran. Adik perempuan saya diikat pada salah satu tiang. Kami menangis sejadi-jadinya. Rasa sakit bercampur malu. Orang-orang kampung berdiri menonton dari kejauhan. Sebagian menangis, tetapi tak seorang pun berani mendekat.
Ayah berdiri sambil memegang parang. “Jangan ada yang buka ikatan itu,” katanya. Suaranya dingin. Waktu berjalan lambat pagi itu, sampai kemudian nenek datang menerobos kerumunan, memeluk kaki saya sambil menangis. Untuk sesaat ayah tampak hendak melangkah maju. Namun ketika menyadari perempuan yang berdiri di hadapannya adalah ibunya sendiri, kemarahannya perlahan surut. Parangnya jatuh tanpa ia sadari.
Nenek membuka ikatan kami. Ia membawa dan memandikan kami, lalu mengantar kami ke sekolah. Saya masih mengingat air mata di wajahnya. Dan hingga kini, saya tak pernah benar-benar melupakan pagi itu.
Ayah adalah lelaki yang keras. Kesalahan kecil bisa berujung pada hukuman. Tetapi ada satu hal yang paling ia jaga, yakni salat dan disiplin. Setiap magrib, ia seperti penjaga waktu yang tak pernah terlambat. Jika kami masih bermain ketika azan berkumandang atau belum berada di rumah saat waktu salat tiba, hukuman telah menunggu.
Sering kali kami pulang dengan jantung berdebar. Ayah berdiri di depan pintu, dan rotan di tangannya lebih dulu berbicara. Sebagai anak-anak, kami hanya mengenal rasa takut. Kami menganggap ayah sebagai sosok yang selalu marah dan tak pernah memberi ruang bagi kesalahan.
Namun waktu mengajarkan sesuatu yang berbeda. Setelah kemarahannya reda, ayah menggendong dan memeluk kami dengan tangan yang beberapa saat sebelumnya digunakan untuk menghukum. Di situlah kami perlahan memahami bahwa cinta kadang hadir dalam bentuk yang sulit dimengerti oleh anak-anak.
Ketika kami beranjak SMA, hukuman-hukuman fisik itu berhenti. Ayah mulai lebih banyak diam. Barangkali karena kami telah tumbuh dewasa, mungkin karena hidup memberinya persoalan yang lebih besar untuk dipikirkan, yaitu biaya pendidikan.
Ketika saya diterima di perguruan tinggi, ayah meninggalkan kebun dan menjadi buruh bangunan di Ternate. Ia bekerja dari pagi hingga petang, mengangkat semen dan batu demi membayar uang kuliah anaknya.
Belum lama kemudian, adik saya menyusul kuliah. Lalu adik yang lain. Tiga anak kuliah dalam waktu yang berjauhan. Bagi keluarga kami, itu seperti mendaki gunung tanpa mengetahui di mana puncaknya.
Ayah sempat kembali menjadi petani kelapa. Namun hasilnya tak lagi cukup. Ia kembali merantau, kali ini bekerja memasang tiang listrik di berbagai daerah di Maluku Utara, dan pernah makan malam hanya dengan kelapa muda yang membuatnya tak bisa tidur sampai pagi.
Suatu hari, saat uang kiriman belum datang, ayah meminta kami mengambil panjar pada bendahara tempat ia bekerja. Bendahara itu marah, dan berkata pekerjaan baru dimulai tetapi panjar terus diambil.
Kalimat itu sederhana, namun dampaknya begitu panjang. Dalam perjalanan pulang, kedua adik perempuan saya menangis keras. Saya bertanya apa yang membuat mereka sedih. Salah satu dari mereka menjawab dengan suara bergetar. “Kasihan Papa. Torang ambe doi saja, dong bicara Papa sampe.”
Kalimat itu menghantam saya lebih keras daripada pukulan apa pun yang pernah diberikan ayah. Untuk pertama kalinya, saya melihat perjuangan itu dari sudut yang berbeda. Saya melihat seorang lelaki yang setiap hari mempertaruhkan tenaga dan harga dirinya agar anak-anaknya tetap bisa belajar.
Tak lama kemudian saya memutuskan berhenti kuliah sementara. Saya memilih bekerja untuk membantu keluarga dan membiayai adik-adik. Keputusan itu berat, namun jauh lebih berat membayangkan ayah harus memikul semuanya seorang diri.
Suatu malam, ketika kami berbicara tentang pendidikan dan biaya yang semakin besar, ayah mengucapkan kalimat yang hingga kini masih tersimpan rapi dalam ingatan saya. “Papa mampu atau tara mampu, ngoni semua harus sekolah. Biar yang terbakar ini Mama deng Papa saja sudah cukup.”
Ia mengatakannya dengan suara pelan, nyaris seperti berbisik. Tetapi kalimat itu terasa lebih kuat daripada teriakan apa pun.
Kini, ketika mengenang rumah beratap katu yang bocor, dinding gabah yang rapuh, lantai tanah yang becek, dan perjalanan panjang keluarga kami, saya mulai memahami sesuatu. Bahwa kemiskinan memang membuat hidup terasa sempit.
Namun cinta orang tua selalu menemukan jalan yang lebih luas daripada keadaan. Dan di balik sosok ayah yang keras itu, ternyata tersimpan ketakutan yang sederhana: jangan sampai anak-anaknya menjalani hidup sesulit dirinya.



