back to top
Sitti Nurliani Khanazahrah
Sitti Nurliani Khanazahrah
Pegiat Literasi, Filsafat, Penulis dan Dosen
Home |

Kita Pernah Dekat, Lalu Menjadi Orang Asing Tanpa Pernah Bertengkar

Katulistiwa.id

Beberapa hari lalu, sebuah pesan singkat yang saya lempar ke grup percakapan lama hanya menggantung tanpa jawaban. Layar ponsel menunjukkan tanda bahwa pesan itu sudah dibaca oleh mereka, tetapi tak ada satu pun yang mengetik balasan.

Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada juga adu argumen, atau kata berpisah yang diucapkan dengan gusar. Percakapan itu menguap begitu saja. Keheningan perlahan-lahan datang dan mengendap di antara kami, serupa debu halus yang menumpuk diam-diam di atas meja kayu sebuah rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya.

Kita sering kali membayangkan bahwa berakhirnya sebuah hubungan antarmanusia, terutama hubungan yang telah terbangun bertahun-tahun, selalu ditandai oleh tragedi besar dan benturan karakter yang sengit, atau penghianatan yang dramatis.

Tetapi dalam lanskap persahabatan modern, perpisahan paling sering hadir tidak sebagai panggung teater yang riuh, tetapi sebagai proses penguapan yang amat sunyi, hampir-hampir tak terdeteksi sampai kita sadar ruang di sebelah kita telah sepenuhnya kosong.

Ada kecenderungan umum dalam masyarakat kita untuk mengukur bobot rasa sakit berdasarkan status formal sebuah hubungan. Ketika sebuah hubungan asmara atau pernikahan runtuh, maka struktur sosial masyarakat telah menyediakan seluruh infrastruktur berduka yang begitu memadai. Ada narasi kolektif yang memvalidasinya secara terbuka.

Teman-teman akan berkumpul membawa makanan hangat, lagu-lagu patah hati diputar berulang kali di stasiun radio, dan ada ruang toleransi sosial yang cukup lapang bagi seseorang untuk merasa hancur dan kehilangan fokus kerja, atau melamun di sudut ruangan selama beberapa pekan. Putus cinta memiliki status sosial yang sah dan diakui sebagai bentuk penderitaan eksistensial. Di sana ada pula ritus pelepasan yang disepakati bersama, yaitu mengembalikan tumpukan barang peninggalan serta menghapus jejak foto digital, atau setidaknya mengucap satu kalimat penutup yang tegas bahwa hubungan telah selesai.

Namun demikian, apa yang terjadi ketika seseorang kehilangan seorang sahabat dekat? Tidak ada ritual pelepasan yang dipersiapkan untuk kejadian itu. Tidak ada pula istilah “mantan sahabat” yang bisa diucapkan dengan nyaman di lidah tanpa mengundang rasa canggung atau tatapan heran dari orang lain. Kultur sosial kita cenderung menempatkan persahabatan sebagai ikatan sekunder, yaitu sebuah relasi periferal yang berdiri di luar hierarki utama seperti keluarga darah dan pasangan romantis.

Akibatnya, ketika ikatan persahabatan itu retak dan patah, seseorang mengalami apa yang dalam diskursus psikologi sosial dikenal sebagai disenfranchised grief, yaitu sebuah bentuk duka yang ditolak haknya untuk dirayakan dan diratapi, atau bahkan diakui secara terbuka oleh publik. Kita dituntut untuk tetap beraktivitas normal dan menghadiri rapat, serta tersenyum di meja makan, seolah-olah tidak ada satu pun bagian dari organ emosional kita yang baru saja dioperasi tanpa pembius, hanya karena sosok yang menghilang itu “cuma seorang teman.”

Rasa sakit dari perpisahan persahabatan justru bersumber dari karakternya yang sangat menggantung (ambiguous loss). Seseorang yang pernah memegang rahasia terkecil dan paling berbahaya dalam hidup kita, yang menyaksikan fase-fase paling mentah dan rapuh dari perjalanan kita, serta yang tahu persis bagaimana bentuk tawa kita ketika seluruh topeng sosial dilepas, mendadak masih ada dan berjarak hanya beberapa kilometer dari tempat kita duduk. Mereka masih mengunggah cerita harian di media sosial, masih berjalan di lorong-lorong kota yang sama, masih bernapas dan minum kopi di jam yang sama, tetapi pintu masuk ke dalam dunia emosional mereka telah dikunci rapat tanpa ada serah terima kunci cadangan. Ini adalah bentuk pengalaman aneh dalam hidup manusia, karena menyaksikan kematian dari seseorang yang secara fisik masih sangat hidup.

Jika kita mau menguji fenomena ini secara lebih cermat, ketegangan dalam persahabatan modern sering kali dirawat oleh mekanisme yang tampak sangat sopan tetapi mematikan, yaitu the slow fade. Ini adalah praktik penarikan diri secara bertahap dan sistematis, yang di dalam kultur hari ini sering dibungkus menggunakan kosakata kesehatan mental seperti “menetapkan batasan diri” (setting boundaries), menjaga kedamaian batin, atau tuntutan kesibukan usia dewasa. Kita memberi tahu diri kita sendiri bahwa menjauh diam-diam adalah cara terbaik untuk menghindari konflik yang tidak perlu. Tetapi, jika kita berani membawa kecurigaan ini lebih jauh ke dalam pemeriksaan batin sendiri, sering kali penarikan diri secara lambat itu bukanlah tanda dari kearifan atau kedewasaan emosional, tetapi sebuah bentuk penakut emosional (emotional cowardice).

Kita telah menjadi masyarakat yang sangat mahir mengelola transaksi digital dan percakapan teknis, tetapi semakin tidak memiliki kecakapan dasar untuk melakukan konfrontasi emosional secara jujur dan bertanggung jawab. Kita lebih memilih membiarkan sebuah hubungan mati perlahan-lahan karena kehabisan oksigen komunikasi daripada keberanian untuk duduk bersama dan saling menatap, serta bersuara jujur bahwa ada sesuatu yang terluka, ada yang berubah, atau ada ekspektasi yang tak lagi mampu dipenuhi di antara kita.

Di sinilah letak ironi terbesar dari kultur urban hari ini. Kita dikepung oleh ribuan konten wacana tentang pentingnya memiliki support system, pentingnya self-care, dan peningkatan kesadaran akan kesehatan emosional. Namun pada saat yang sama, tanpa sadar kita justru mengadopsi logika pasar dan komodifikasi dalam mengelola hubungan antarmanusia. Sahabat yang tidak lagi efisien memberi pasokan kenyamanan emosional, sahabat yang mulai memiliki orientasi politik atau nilai hidup yang berbeda, atau sahabat yang menuntut perhatian lebih di tengah kepungan kesibukan karir kita, dengan sangat mudah dan murah diberi label sebagai figur yang “toksik.”

Kata toksik telah merosot menjadi stempel pembenaran yang sangat dangkal bagi kita untuk melarikan diri dari kerumitan serta kelelahan menjaga hubungan manusia yang nyata. Kita lupa bahwa menjadi manusia yang berhubungan dengan manusia lain berarti harus selalu siap untuk terluka dan melukai secara tidak sengaja. Persahabatan yang mendalam tidak pernah tumbuh di atas sterilnya laboratorium emosional yang bebas dari gesekan, tetapi di atas tanah kerentanan yang bersedia menanggung rasa tidak nyaman, kekecewaan dan juga pengampunan yang berulang-ulang.

Seorang pemikir fenomenologi, Emmanuel Levinas, pernah mengajarkan bahwa perjumpaan antardua manusia pada tingkatnya yang paling radikal adalah perjumpaan dengan “Wajah yang Lain” (the Face of the Other). Wajah tersebut bukanlah sekadar fitur fisik, tetapi sebuah panggilan etis yang tidak bisa ditawar, yang menuntut kita untuk keluar dari egosentrisme dan menarik kita bertanggung jawab atas keberadaan orang lain. Dalam hubungan asmara, sering kali ada unsur kehendak untuk memiliki, ada daya tarik biologis, atau ada konstruksi sosial-hukum seperti pranata pernikahan yang ikut menjaga dan mengikat struktur hubungan tersebut ketika emosi sedang surut. Namun, persahabatan pada hakikatnya adalah bentuk relasi yang paling murni dari prinsip kebebasan manusia.

Tidak ada hukum perdata yang mengikat dua orang sahabat, tidak ada juga kontrak ekonomi, dan tidak ada sanksi sosial jika persahabatan itu retak. Persahabatan bertahan semata-mata karena kedua belah pihak, dalam kebebasan batin mereka masing-masing, memilih untuk terus hadir dan merawat kehadiran itu setiap hari. Justru karena didasarkan pada kebebasan murni itulah, ketika sebuah persahabatan runtuh dan lenyap, fondasi kepercayaan paling mendasar kita terhadap komitmen dan pilihan bebas manusia ikut bergetar hebat. Kita tidak hanya mempertanyakan sosok yang pergi, tetapi mempertanyakan kapasitas kebaikan dalam relasi antarmanusia itu sendiri.

Ketika seorang sahabat menjauh dan akhirnya menghilang dari ruang hidup kita, kita tidak hanya kehilangan sosok fisik atau kawan ngobrol di akhir pekan. Yang sejatinya ikut terkikis adalah sebagian dari narasi sejarah diri kita sendiri. Sahabat dekat adalah arsip hidup dari perjalanan batin kita. Merekalah yang menyimpan memori dan menjadi saksi kunci dari siapa kita sebelum kita bertransformasi menjadi sosok yang penuh kalkulasi dan kompromi seperti hari ini.

Merekalah yang mengingat cita-cita konyol kita di usia awal dua puluh tahun, ketakutan-ketakutan bodoh kita, juga bagaimana bentuk kepedihan kita saat pertama kali dihantam kegagalan. Kehilangan mereka terasa bagaikan terhapusnya beberapa bab vital dalam sebuah buku harian pribadi yang tidak pernah sempat kita salin ke media lain. Kita mendadak merasa asing, tidak hanya pada sosok sahabat yang kini tak lagi dikenal, tetapi juga pada versi diri kita sendiri di masa lalu, yaitu versi diri yang hanya bisa keluar dan hidup ketika kita berada di dekat mereka.

Namun, di titik ini, sebuah pemikiran filosofis yang jujur tidak boleh berhenti pada ratapan dan romantisisme penderitaan semata. Kita harus berani memutar arah analisis dan menguji balik posisi serta duka kita sendiri. Apakah ketakutan dan rasa sakit yang berlebihan saat menghadapi perpisahan persahabatan ini sebenarnya berakar dari sebuah obsesi bawah sadar kita terhadap keabadian yang tidak realistis?

Kita dibesarkan dalam kultur naratif yang mendewakan kontinuitas tanpa putus. Kita cenderung mengukur keberhasilan sebuah hubungan semata-mata dari durasinya. Bahwa makin lama bertahan, maka makin dianggap berhasil. Padahal, manusia bukanlah benda mati yang statis; manusia adalah proses yang terus menjadi (becoming). Pertumbuhan eksistensial seseorang hampir selalu melibatkan perubahan kapasitas emosional dan pergeseran cara pandang terhadap dunia, serta perbedaan kecepatan dalam memproses luka hidup.

Ada masa-masa tertentu dalam hidup di mana dua jiwa bergerak sejajar dengan sangat harmonis karena mereka membutuhkan jenis cermin yang sama untuk memahami siapa diri mereka. Namun, ketika garis perjalanan hidup, pilihan nilai, atau trauma masa lalu membawa mereka ke persimpangan yang tak lagi sejajar, memaksakan dua orang untuk tetap berada dalam satu ruangan relasi yang sama sering kali bukan lagi bentuk kesetiaan, tetapi sebuah bentuk kekerasan emosional yang halus tetapi memutus pertumbuhan kedua belah pihak.

Mungkin, salah satu bentuk kedewasaan etis yang paling sulit dicapai oleh manusia adalah keberanian untuk merelakan perpisahan tanpa harus mengarang narasi kebencian sebagai penawarnya. Kita memiliki kecenderungan buruk untuk mencari-cari kesalahan kawan yang menjauh, menuduh mereka berubah, atau melabeli mereka tidak setia, hanya agar kita merasa menjadi pihak yang benar dan memiliki alasan yang sah untuk merasa sakit hati. Padahal, sebuah persahabatan yang harus berakhir tidak secara otomatis membatalkan atau membuktikan bahwa masa lalu yang pernah dilalui bersamanya adalah sebuah kebohongan.

Gelak tawa lepas di warung kopi kecil sepuluh tahun lalu, dukungan diam-diam tanpa kata saat kita baru saja kehilangan anggota keluarga, dan percakapan mendalam hingga fajar menyingsing di teras rumah tetaplah nyata, sah, dan bernilai abadi pada jamannya. Momen-momen itu tidak menjadi sia-sia hanya karena orang yang berbagi kenangan itu kini telah menjadi asing kembali. Sebuah ikatan antarmanusia tidak harus berlangsung hingga akhir hayat untuk bisa diakui sebagai sesuatu yang suci dan bermakna.

Dalam khazanah pemikiran klasik tentang relasi antarmanusia, ada pemahaman fenomenologis bahwa kehadiran seorang manusia dalam hidup kita sering kali terbagi ke dalam tiga bentuk ketetapan. Ada yang hadir untuk sebuah alasan tertentu (for a reason), ada yang hadir untuk suatu musim tertentu (for a season), dan ada pula yang hadir untuk sepanjang hayat (for a lifetime). Kesalahan terbesar dari cara berpikir kita yang posesif adalah sering kali menuntut dan memaksakan mereka yang sejatinya hanya dikirimkan untuk menemani kita dalam satu musim kehidupan agar tetap tinggal hingga seluruh musim berakhir.

Ketika musim itu akhirnya bergeser dan angin bertiup ke arah lain, kita merasa dikhianati dan ditelantarkan. Padahal, jika kita belajar dari alam, daun-daun yang gugur menanggalkan dahannya di musim gugur tidak pernah bermaksud mengkhianati pohon tempatnya pernah tumbuh. Ia hanya sedang tunduk pada hukum pertumbuhan yang lebih besar agar pohon tersebut sanggup bertahan melewati musim dingin yang membeku dan menyambut tunas yang baru.

Menatap fenomena friendship breakup dengan kacamata reflektif yang jernih pada akhirnya membimbing kita untuk berhenti mencari siapa yang bersalah atau siapa yang menjadi korban. Ini bukan lagi soal kalkulasi moral tentang siapa yang kurang berusaha merawat komunikasi atau siapa yang terlebih dahulu berpaling. Ini adalah tentang kesungguhan untuk menerima kenyataan bahwa kebebasan dan pertumbuhan manusia selalu membawa konsekuensi berupa jarak dan pergeseran. Kita tidak pernah memiliki kontrol penuh atas arah bertumbuhnya jiwa orang lain, sebagaimana kita juga tidak akan pernah bisa menahan diri kita sendiri untuk tidak mengalami perubahan seiring berjalannya waktu dan bertumpuknya pengalaman hidup.

Jika pada hari ini Anda mendapati diri Anda sedang duduk sendirian, merindukan nama seorang kawan yang dulu begitu akrab namun kini terasa sangat jauh, seseorang yang keberadaannya kini hanya bisa Anda pantau dari balik layar kaca ponsel yang dingin tanpa pernah ada lagi keberanian untuk saling menyapa, mungkin hal paling bermartabat yang bisa kita lakukan bukanlah memaksakan diri menyambung kembali benang yang telah lapuk, atau mengutuki keheningan yang membentang di antara kalian.

Mungkin yang sungguh-sungguh kita butuhkan adalah memberikan sebuah “upacara pelepasan” yang hening dan jujur di dalam panggung batin kita sendiri. Sebuah pengakuan yang berani bahwa rasa kehilangan itu nyata, bahwa lukanya sah untuk diakui, meskipun masyarakat di sekitar kita tidak pernah menyediakan panggung resmi untuk meratapinya. Dan di atas segalanya, kita menyisakan sebuah ucapan terima kasih yang tulus tanpa perlu dikirimkan lewat pesan singkat, bahwa di suatu rentang waktu yang pernah ada di masa lalu, di tengah dunia yang sering kali terasa asing, keras dan dingin ini, kita pernah cukup beruntung menemukan seorang manusia yang pernah membuat perjalanan kita terasa begitu hangat dan tidak sendirian.

Perpisahan persahabatan pada akhirnya selalu mengembalikan kita pada satu kebenaran paling mendasar mengenai eksistensi manusia. Bahwa setiap diri kita pada dasarnya melangkah di atas bumi ini sebagai seorang pengembara yang soliter. Orang-orang yang datang dan menetap sejenak, lalu berjalan menjauh dalam hidup kita adalah rekan sejalan yang sudi meminjamkan lentera mereka untuk menyinari beberapa meter jalan gelap yang sedang kita tempuh. Ketika garis lintasan mereka akhirnya membelok ke arah yang lain, kita tidak pernah benar-benar kehilangan cahaya yang pernah mereka bagikan. Cahaya itu telah meresap, menjadi bagian dari batin kita dan menerangi cara kita melangkah sendiri ke depan.

Esai ini telah tayang di Kompasiana.com , 21 Agustus 2026.

Tim Redaksi
Editor:
Bagikan :

Artikel Terkait

Profile

Latest Articles