Ternate – Matahari sore menjelang senja masih terasa hangat di Benteng Oranje, Ternate, Jumat (11/9). Satu per satu pengunjung datang dan memarkir kendaraan di tepi jalan masuk hingga dekat lokasi acara.
Sebagian kemudian memilih duduk di kursi yang masih terkena sinar matahari. Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, Rektor IAIN Ternate Adnan Mahmud, dan Kepala Disarpus Maluku Utara Muliadi Tutupoho, bersama sejumlah undangan juga duduk menghadap panggung. Mereka tampak tak terganggu oleh teriknya matahari sore.
Di sisi lain, kerumunan terlihat di sejumlah stan buku. Pengunjung membuka-buka buku yang dipajang. Stan Gramedia termasuk yang ramai didatangi. Buku karya penulis Maluku Utara juga menjadi bagian dari koleksi yang dipamerkan.
Selain Gramedia, terdapat stan dari sivitas akademika MAN Insan Cendekia Halmahera Barat, SMA Negeri 8 Ternate, serta SMA Negeri 4 Ternate.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Ternate juga membawa mobil perpustakaan keliling ke lokasi, menambah pilihan bagi pengunjung yang ingin membaca di tengah kegiatan festival.
Sore itu, untuk pertama kalinya, Festival Buku atau BookFest Maluku Utara digelar. Kegiatan berlangsung hingga 12 September 2026, di Benteng Oranje.
Festival yang mempertemukan pelajar SMP dan SMA, pegiat literasi, serta penulis itu digagas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Maluku Utara, berkolaborasi dengan Komunitas Faduli Buku dan Jakofi Pustaka, serta didukung LP3ES Jakarta.
BookFest tak hanya menjadi ruang pamer dan penjualan buku. Berbagai kegiatan disiapkan untuk mempertemukan pembaca dan penulis sekaligus mendorong keterampilan menulis. Di antaranya diskusi buku, creative writing, teknik menulis sajak, musikalisasi puisi, pameran buku karya penulis dan meet and greet dengan penulis Maluku Utara.
Wakil Gubernur Sarbin Sehe membuka BookFest Maluku Utara, sekaligus meluncurkan Yayasan Rumah Buku Maluku Utara dan 99 buku karya penulis daerah ini.
Peluncuran 99 buku ditandai dengan penandatanganan replika sampul buku secara simbolis.
Dalam sambutannya, Sarbin mengatakan buku memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Menurut dia, budaya membaca dan menulis harus terus didorong karena penulis memiliki peran penting dalam menyediakan informasi bagi masyarakat.
“Buku sangat penting dan menulis setara dengan guru. Penulis tidak bisa tergantikan oleh sistem informasi, karena tanpa penulis kita tidak mendapatkan informasi,” kata Sarbin.
Sarbin berpendapat, kemampuan menulis tidak dapat dipisahkan dari budaya membaca. Karena itu, masyarakat perlu didorong untuk meningkatkan minat baca sekaligus menghasilkan karya dalam bentuk buku.
Ia berharap kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan budaya literasi di Maluku Utara dapat terus dilakukan. Kegiatan kepenulisan yang melibatkan generasi muda, menurut dia, menjadi salah satu ruang penting untuk menumbuhkan budaya tersebut.
Menjadi Agenda Tahunan
Ketua ICMI Orwil Maluku Utara Kasman Hi. Ahmad berharap Festival Buku Maluku Utara tidak berhenti pada penyelenggaraan perdana. Ia menginginkan kegiatan tersebut dapat ditetapkan sebagai agenda tahunan.
Menurut Kasman, keberadaan Yayasan Rumah Buku Maluku Utara juga diharapkan dapat memperkuat gerakan literasi dan pembukuan di provinsi tersebut.
Yayasan itu nantinya akan menjadi ruang untuk mendorong dan memfasilitasi mereka yang memiliki kemampuan menulis dan telah memiliki naskah, tetapi belum menerbitkan buku.
“Adanya Yayasan Rumah Buku diharapkan menjadi gerakan dalam literasi dan pembukuan di Provinsi Maluku Utara. Di yayasan ini nantinya kita mendorong dan memfasilitasi teman-teman yang memiliki kemampuan menulis dan sudah memiliki naskah, tetapi belum diterbitkan,” ujar Kasman.
Festival Buku Maluku Utara menjadi ruang pertemuan antara buku, pembaca, dan penulis. Kehadiran pelajar dalam kegiatan itu juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat dunia membaca dan menulis.
Sore beranjak malam, rangkaian pembukaan BookFest ditutup dengan pembacaan puisi.



