back to top
Katulistiwa |

Anak-Anak SD di Ternate Belajar Merawat Warisan Kukuran Desa Tongole

Terpopuler

Artikel Terkait

Ternate – Kukuran, alat parut kelapa tradisional dari Desa Tongole, kembali dikenalkan kepada generasi muda. Melalui lokakarya bertajuk “Merawat Warisan Kukuran Desa Tongole” di SD Negeri 4 Kota Ternate, Rabu (5/8), puluhan siswa sekolah dasar diajak mengenal pengetahuan lokal yang mulai tergerus modernisasi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara yang berfokus pada pendokumentasian pengetahuan lokal sekaligus pengembangan pembelajaran etnosains bagi siswa sekolah dasar.

Sebanyak 30 siswa dari SD Negeri 4, SD Negeri 3, SD Negeri 8, dan SD Negeri 10 Kota Ternate mengikuti lokakarya tersebut.

Pengrajin kukuran asal Desa Tongole, Safrin Sabtu, menjadi narasumber utama. Di hadapan para siswa, ia memperkenalkan bagian-bagian kukuran, memperagakan posisi duduk yang benar saat memarut kelapa, serta menjelaskan proses pembuatannya, mulai dari memilih kayu hingga memasang mata parut.

Safrin mengaku senang karena pengetahuan yang selama ini diwariskan secara turun-temurun mulai mendapat perhatian. “Saya bahagia ada yang mendokumentasikan kukuran dan melestarikannya ke generasi penerus,” ujar Safrin.

Setelah sesi pemaparan, para siswa mempraktikkan langsung cara menggunakan kukuran di halaman sekolah. Mereka mengamati bentuk hasil parutan, mencium aromanya, lalu mengisi lembar kerja yang mengaitkan pengalaman tersebut dengan konsep-konsep sains sederhana, seperti gaya gesek, tekanan, dan bentuk permukaan alat.

Sebagai penanda kegiatan, seluruh peserta mengenakan ikat kepala bertuliskan “Sahabat Kukuran Desa Tongole.”

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara yang diwakili Dwi Sri mengatakan, pendekatan etnosains mengajak peserta didik memahami bahwa praktik-praktik budaya yang diwariskan leluhur memiliki landasan ilmiah yang dapat dipelajari.

Ketua tim kegiatan, Suryani Taib, dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Khairun, mengatakan pendokumentasian pengetahuan para pengrajin menjadi inti dari program tersebut.

“Harapan kami warisan ini terus dijaga, dan pengetahuan dasar dari pengrajin tidak boleh hilang,” ujarnya.

Kepala SD Negeri 4 Kota Ternate, Jeny N. Ballamu, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia berharap bahan ajar yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Lokakarya juga dihadiri kepala sekolah dari SD Negeri 3, SD Negeri 8, dan SD Negeri 10 Kota Ternate beserta guru pendamping masing-masing.

Selain menyelenggarakan lokakarya, tim kegiatan mendokumentasikan proses pembuatan kukuran di Desa Tongole dalam bentuk film dokumenter.

Dokumentasi itu akan disusun menjadi bahan ajar etnosains sekaligus arsip pengetahuan lokal yang dapat dimanfaatkan guru dan sekolah lain di Kota Ternate.

Kukuran merupakan alat parut kelapa berbahan kayu yang telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Maluku Utara.

Namun, sejak mesin parut semakin luas digunakan, keberadaan kukuran kian terpinggirkan. Penggunanya terus berkurang, begitu pula jumlah pengrajin yang masih mempertahankan tradisi pembuatannya.

Tim Redaksi
Editor:

Literasi

Profile

Khazanah

Bagikan :

Artikel Terkait

Ternate – Kukuran, alat parut kelapa tradisional dari Desa Tongole, kembali dikenalkan kepada generasi muda. Melalui lokakarya bertajuk “Merawat Warisan Kukuran Desa Tongole” di SD Negeri 4 Kota Ternate, Rabu (5/8), puluhan siswa sekolah dasar diajak mengenal pengetahuan lokal yang mulai tergerus modernisasi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara yang berfokus pada pendokumentasian pengetahuan lokal sekaligus pengembangan pembelajaran etnosains bagi siswa sekolah dasar.

Sebanyak 30 siswa dari SD Negeri 4, SD Negeri 3, SD Negeri 8, dan SD Negeri 10 Kota Ternate mengikuti lokakarya tersebut.

Pengrajin kukuran asal Desa Tongole, Safrin Sabtu, menjadi narasumber utama. Di hadapan para siswa, ia memperkenalkan bagian-bagian kukuran, memperagakan posisi duduk yang benar saat memarut kelapa, serta menjelaskan proses pembuatannya, mulai dari memilih kayu hingga memasang mata parut.

Safrin mengaku senang karena pengetahuan yang selama ini diwariskan secara turun-temurun mulai mendapat perhatian. “Saya bahagia ada yang mendokumentasikan kukuran dan melestarikannya ke generasi penerus,” ujar Safrin.

Setelah sesi pemaparan, para siswa mempraktikkan langsung cara menggunakan kukuran di halaman sekolah. Mereka mengamati bentuk hasil parutan, mencium aromanya, lalu mengisi lembar kerja yang mengaitkan pengalaman tersebut dengan konsep-konsep sains sederhana, seperti gaya gesek, tekanan, dan bentuk permukaan alat.

Sebagai penanda kegiatan, seluruh peserta mengenakan ikat kepala bertuliskan “Sahabat Kukuran Desa Tongole.”

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara yang diwakili Dwi Sri mengatakan, pendekatan etnosains mengajak peserta didik memahami bahwa praktik-praktik budaya yang diwariskan leluhur memiliki landasan ilmiah yang dapat dipelajari.

Ketua tim kegiatan, Suryani Taib, dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Khairun, mengatakan pendokumentasian pengetahuan para pengrajin menjadi inti dari program tersebut.

“Harapan kami warisan ini terus dijaga, dan pengetahuan dasar dari pengrajin tidak boleh hilang,” ujarnya.

Kepala SD Negeri 4 Kota Ternate, Jeny N. Ballamu, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia berharap bahan ajar yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Lokakarya juga dihadiri kepala sekolah dari SD Negeri 3, SD Negeri 8, dan SD Negeri 10 Kota Ternate beserta guru pendamping masing-masing.

Selain menyelenggarakan lokakarya, tim kegiatan mendokumentasikan proses pembuatan kukuran di Desa Tongole dalam bentuk film dokumenter.

Dokumentasi itu akan disusun menjadi bahan ajar etnosains sekaligus arsip pengetahuan lokal yang dapat dimanfaatkan guru dan sekolah lain di Kota Ternate.

Kukuran merupakan alat parut kelapa berbahan kayu yang telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Maluku Utara.

Namun, sejak mesin parut semakin luas digunakan, keberadaan kukuran kian terpinggirkan. Penggunanya terus berkurang, begitu pula jumlah pengrajin yang masih mempertahankan tradisi pembuatannya.

Tim Redaksi
Editor:
Bagikan :

Artikel Terkait

Terpopuler

Latest Articles