Morotai — Legenda Putri Dehegila terdengar sayup di Pulau Morotai, Maluku Utara. Sebagian warga masih mengingat tokoh dan kisahnya, sementara yang lain hanya mengenal nama Putri Dehegila atau Putri Dei dan Kapita Sopi tanpa mengetahui jalan ceritanya secara utuh.
Cerita yang hidup dalam ingatan masyarakat itu menjadi salah satu temuan tim peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Khairun (Unkhair), Ternate.
Selama tujuh hari, tim yang terdiri atas Dessy Wahyuni, Drajat Agus Murdowo, Hudan Irsyadi, Sriyono, Mu’awal Panji Handoko, Ricky Aptifive Manik, dan Sarip Hidayat menelusuri cerita rakyat di Kabupaten Pulau Morotai.
Pada Selasa, 18 Agustus, tim menemui pimpinan dan anggota DPRD Pulau Morotai untuk menyampaikan perkembangan penelitian sekaligus membahas kemungkinan mengembangkan cerita rakyat, terutama legenda Putri Dehegila, sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Penelitian menunjukkan pengetahuan masyarakat mengenai legenda tersebut tidak seragam. Sebagian masih mengingat tokoh-tokohnya, sedangkan sebagian lain hanya pernah mendengar namanya.
Perbedaan versi itu justru memperlihatkan bahwa cerita rakyat tidak berdiri sendiri. Di dalamnya tersimpan ingatan tentang asal-usul, perpindahan penduduk, hubungan antarkelompok, hingga ruang kekuasaan.
Cerita Rakyat dan Ekonomi Lokal
Tim peneliti melihat cerita rakyat juga dapat dikaitkan dengan sumber daya lokal. Kelapa, misalnya, selama ini terutama dipandang sebagai komoditas ekonomi masyarakat. Komoditas itu dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah seperti virgin coconut oil (VCO) dengan membawa narasi budaya dari legenda setempat.
Simbol kecantikan Putri Dehegila atau kekuatan Kapita Sopi dapat menjadi bagian dari identitas produk. Dengan cara itu, cerita rakyat tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, melainkan dapat menjadi sumber gagasan bagi produk budaya dan ekonomi kreatif.
Gagasan tersebut berangkat dari persoalan yang lebih besar: bagaimana kebudayaan dapat memberi manfaat ekonomi tanpa kehilangan konteks sosialnya.
Morotai dan Persoalan Identitas
Diskusi dengan DPRD membuka persoalan lain tentang identitas masyarakat Morotai.
Salah seorang anggota DPRD menyebut penduduk Morotai berasal dari beragam kelompok etnis. Ia mengatakan masyarakat Morotai pada dasarnya merupakan pendatang dari Tobelo dan Galela. Kini masyarakat di pulau itu juga terdiri atas kelompok Bugis, Buton, Ternate, Tidore, dan kelompok lainnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan identitas Morotai tidak sederhana. Pulau itu merupakan ruang perjumpaan berbagai kelompok, sejarah migrasi, dan pengalaman sosial.
Dalam konteks tersebut, cerita rakyat dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai ingatan tentang masa lalu. Cerita rakyat tak hanya objek kebudayaan, tetapi juga bahan untuk memahami bagaimana sebuah masyarakat terbentuk.
Seorang anggota DPRD dalam pertemuan itu menyampaikan versi lain mengenai Kapita Sopi. Menurut penuturannya, Kapita Sopi dikenal sebagai Tabatuku, sosok bertubuh raksasa. Istilah “sopi”, kata dia, berkaitan dengan “seppi” yang dahulu merujuk pada batas atau perbatasan.
Ia juga mengaitkan kelompok Sopi dengan orang Galela yang datang dari Kesultanan Ternate bersama keluarganya ke Morotai untuk mencari penyu.
Informasi tersebut menjadi penting bagi penelitian karena menunjukkan bahwa sebuah legenda dapat menyimpan lapisan cerita mengenai migrasi, hubungan antarkelompok, batas wilayah, kekuasaan, dan mobilitas masyarakat di Maluku Utara.
Cerita rakyat, dengan demikian, dapat dipandang sebagai arsip ingatan masyarakat. Bukan arsip dalam bentuk dokumen tertulis, melainkan arsip yang diwariskan melalui tuturan.
Dari Perbedaan Menjadi Perekat
Keragaman etnis juga membawa tantangan. Ketika kelompok-kelompok masyarakat memiliki ingatan dan versi berbeda mengenai asal-usul mereka, sejarah masa lalu dapat menjadi sumber perbedaan jika tidak dibicarakan secara terbuka.
Dalam konteks itu, DPRD menilai penelitian BRIN dan Unkhair memiliki arti strategis. Penulisan sejarah lokal yang berangkat dari cerita rakyat dapat menjadi salah satu cara mempertemukan identitas yang hidup di Morotai.
Cerita rakyat tidak harus digunakan untuk menentukan siapa yang paling asli atau paling berhak atas sebuah identitas. Cerita rakyat justru dapat menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana berbagai kelompok bertemu dan kemudian membentuk masyarakat Morotai.
Legenda Putri Dehegila, Putri Dei, Kapita Sopi, atau Tabatuku pada akhirnya tak hanya berbicara mengenai tokoh-tokoh dalam cerita. Di baliknya terdapat persoalan migrasi, perjumpaan etnis, batas wilayah, relasi kekuasaan, sumber daya alam, dan pembentukan identitas bersama.
Infrastruktur Tak Cukup
Persoalan kebudayaan itu berkelindan dengan pembangunan ekonomi di Morotai. Dalam pertemuan dengan DPRD, muncul kritik bahwa pembangunan daerah selama ini masih banyak bertumpu pada infrastruktur.
Pembangunan fisik memang diperlukan, tetapi tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika tidak dibarengi pengembangan kapasitas, produk lokal, dan ekosistem ekonomi yang melibatkan warga.
Karena itu, cerita rakyat dapat menjadi salah satu sumber pengembangan ekonomi kreatif. Legenda lokal dapat dikembangkan menjadi narasi pariwisata, pertunjukan, film, buku, permainan, suvenir, maupun produk berbasis budaya. Potensi alam seperti kelapa juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang membawa identitas Morotai.
Pendekatan itu menempatkan kebudayaan bukan sekadar ornamen pembangunan, melainkan salah satu modal pembangunan ekonomi masyarakat.
DPRD Dorong Sinergi dengan Pemkab
DPRD Pulau Morotai menyambut penelitian BRIN dan Unkhair. DPRD mendorong Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, terutama Dinas Pariwisata, untuk mendukung dan memfasilitasi penelitian serta pengembangan hasil riset.
DPRD juga menyatakan akan membahas lebih lanjut hasil pertemuan tersebut agar penelitian dapat bersinergi dengan berbagai pihak di Morotai.
Harapannya, riset tidak berhenti sebagai laporan akademik. Hasil penelitian diharapkan dapat diterjemahkan menjadi program yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Bagi tim peneliti, dukungan tersebut membuka peluang untuk menghubungkan penelitian bahasa, sastra, dan cerita rakyat dengan agenda kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, serta pembangunan daerah.
Legenda Putri Dehegila, pada akhirnya, bukan hanya soal menyelamatkan sebuah cerita lama dari kepunahan. Tetapi juga dapat menjadi cara bagi masyarakat Morotai untuk membaca kembali dirinya sendiri: dari mana mereka datang, bagaimana berbagai kelompok bertemu, dan bagaimana identitas bersama terbentuk.
Di pulau yang dihuni berbagai kelompok etnis dan menyimpan banyak versi tentang masa lalu, yang dibutuhkan mungkin bukan satu cerita yang dianggap paling benar. Yang lebih penting adalah ruang untuk mempertemukan berbagai cerita itu menjadi kesadaran bersama tentang siapa masyarakat Morotai.
Kunjungan tim riset BRIN dan Unkhair tersebut disambut Ketua DPRD Pulau Morotai, M Rizky Jalal bersama sejumlah anggota Dewan yakni Sukri Mandea, Rahabeam Sumahi, Richard Samatara, Hi Zainal Karim, dan M Johar Buleu.



