Duduk di sini.. Tetiba saya membayangkan Kartini tidak sebagai sosok anggun yang membeku dalam bingkai foto, tetapi sebagai perempuan yang sedang menyembunyikan badai di balik ujung penanya.
Kalimat di dinding itu benar bahwa kita memang harus membuat sejarah kita sendiri. Namun, seringkali kita luput menyadari bahwa bagi Kartini surat-surat itu sebenarnya adalah sebuah persembunyian.
Menulis baginya bukan sekadar berkabar tetapi cara paling sunyi untuk melarikan diri dari kenyataan yang setiap hari terasa mencekik leher.
Bisa dibayangkan sebuah tubuh yang terkurung di balik tembok keraton yang tebal, tempat waktu seolah berhenti berdetak dan aturan menjelma sebagai tuhan yang tak boleh dibantah. Di sana Kartini dipaksa untuk terus tunduk. Namun saat jemarinya mulai menyentuh kertas, ia merasakan ada kedaulatan yang meledak meski perlahan.
Di atas lembaran itu ia tidak lagi menjadi putri yang dipingit. Ia lalu berubah menjadi pengembara yang melintasi samudera luas menciptakan dunia yang jauh lebih lega dari ruang kamarnya yang pengap. Ia bersembunyi di dalam kata-kata agar jiwanya tetap punya ruang untuk berlari.
Ironisnya, hari ini kita justru terjebak dalam kegaduhan yang aneh. Kita berebut panggung di media sosial dan sangat haus akan pengakuan seolah-olah tanpa tatapan orang lain kita tidak benar-benar ada di dunia ini. Kartini lalu memberi kita pelajaran berharga tentang kekuatan sebuah rahasia. Bahwa kedalaman berpikir hanya akan lahir jika kita berani mendekap kesepian kita sendiri dan menjadikannya laboratorium batin yang paling jujur untuk menguji segala hal.
Ia bisa tetap waras karena memiliki satu dunia rahasia yang tidak bisa dimasuki oleh siapa pun bahkan oleh tradisi yang mengepungnya dengan ketat. Menulis adalah caranya menggugat tanpa perlu berteriak di tengah kerumunan. Perubahan besar memang tidak selalu lahir dari hingar bingar karena seringkali ia bermula dari seorang manusia yang memilih duduk diam meragukan segala hal yang dianggap mapan lalu menyusunnya kembali menjadi sebuah kesadaran baru yang lebih terang.
Hemat saya.. Keheningan Kartini adalah keheningan yang menyimpan petir. Di balik senyumnya yang santun itu, ada pikiran yang sedang bekerja meruntuhkan tatanan lama yang sudah usang.
Barangkali merayakan Kartini hari ini bukan soal seberapa megah kita berkebaya, tetapi lebih tentang seberapa tegas kita menyediakan ruang sunyi di dalam kepala untuk menatap kejujuran yang terkadang terasa menyakitkan.**



