Penangkapan ikan-ikan karang di Indonesia sangat intensif, termasuk dengan alat tangkap dan bahan yang destruktif. Penggunaan bom dan bahan kimia masih sering terjadi, walaupun terlarang dan tidak sedikit nelayan yang ditangkap aparat keamanan.
Penangkapan ikan secara destruktif berkontribusi besar terhadap kerusakan ekosistem terumbu karang, baik langsung maupun tidak langsung. Bom dan bahan kimia dapat merusak terumbu karang dalam skala luas, membunuh berbagai biota karang dari ukuran besar hingga telur dan larva.
Tingkat kerusakan karang terus meluas, sementara pemulihan karang secara alami sangat lambat. Berdasarkan pengukuran diketahui bahwa karang genera Acropora yaitu Acropora foliaceous (seperti daun) dapat tumbuh dengan diameter 5-10 cm dan tingginya 2-5 cm per tahun. Sedangkan spesies Montastrea annularis, sebuah tipe kerang masif hanya tumbuh dengan diameter 0,5-2 cm dan tinggi 0,25-0,75 cm per tahun (Nybakken, 1988). Berbagai riset menyebutkan bahwa pertumbuhan karang transplantasi tidak berbeda dengan karang alami. Pertumbuhan karang transplant di Indonesia cukup tinggi, mencapai 3,6-12,9 cm/tahun (Tabel 1).
Tabel 1. Pertumbuhan karang transplant pada beberapa percobaan
| Lokasi | Pertumbuhan panjang | Sumber |
| Jepara | 3,6 – 12,9 cm/tahun | Hadisubroto (1988) |
| Kepulauan Seribu | 0 – 4,9 cm/tahun | Wagiyo et al. (1993) |
| Bali | 0 – 7,2 cm/tahun | Wagiyo et al. (1993) |
| Filipina | 0 – 1,1 cm/bulan | Gomez (1984) |
Sumber: Wagiyo (1996).
Sebagai sebuah ekosistem, pertumbuhan dan kehidupan karang sangat bergantung pada lingkungan dan biota yang bersimbiosis. Faktor yang paling utama adalah keberadaan zoosantella (zooxanthellae) yang hidup bersimbiosis dengan binatang karang. Zoosantella merupakan organisme ototrofik yang sangat berdayaguna dan karena organisme ini berada di seluruh karang di terumbu sehingga membentuk biomassa yang sangat berarti (Nybakken, 1988).
Keberadaan zoosantella dalam polip binatang karang memungkinkan binatang karang mampu memroduksi atau memfiksasi karbondioksida yang ada di perairan sekitarnya. Zoosantella mampu atau dapat membantu mengawetkan unsur hara dengan mengakumulasi sisa-sisa metabolisme dari binatang induk (karang). Unsur hara ini dimanfaatkan oleh zoosantella terutama apabila perairan di sekitarnya miskin akan unsur hara (Supriharyono, 2000). Di samping itu, zoosantella juga dapat memengaruhi konsumsi amonia dalam kondisi terang. Jumlah amonia di perairan laut yang mengandung karang terumbu akan menurun setelah beberapa jam dalam kondisi ada cahaya (terang), dan jumlahnya akan naik dalam kondisi gelap karena produksi amonia oleh karang (Kawaguti, 1953).
Ikan Perumput, Pembersih Karang
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan karang, termasuk pembentukan koloni karang baru, berbagai biota di terumbu karang berperan penting. Ikan-ikan herbivora atau pemakan tumbuhan diketahui merupakan ikan-ikan perumput (grazing) yang berperan penting bagi pertumbuhan dan kesehatan karang. Ikan kakatua atau parrotfish, famili Scaridae bahkan dikenal sebagai ikan pembersih karang. Ikan kakatua (Scarus, Calotomus, Leptoscarus, Cetoscarus, Chlorurus) mempunyai mulut kecil dengan gigi rahang berbentuk paruh digunakan untuk memakan alga dan berbagai organisme yang menempel di karang, sehingga secara langsung membersihkan karang.
Berbagai alga laut dapat menjadi penyaing utama dalam hal tempat bagi karang di terumbu, menyusup dan berkembang lebih cepat daripada karang. Di daerah terumbu karang yang masih lestari, tidak terlihat alga laut yang dominan dan bersaing dengan karang. Hal ini karena selain kehadiran ikan-ikan pemakan tumbuhan, juga invertebrata tertentu, terutama bulu babi seperti Diadema. Ikan-ikan tersebut merumput (grazing) secara teratur, ditambah dengan sejumlah bulu babi, sehingga alga berkurang hingga mencapai minimum dan meningkatkan kemampuan karang dalam melakukan pemulihan (Nybakken, 1988).
Ikan-ikan perumput tidak hanya memakan alga yang tumbuh dan menempel pada polip karang hidup, tetapi juga memakan alga yang menempel pada karang-karang yang telah mati. Karang-karang mati yang bersih dibutuhkan untuk pelekatan planula (larva karang) yang akan membentuk koloni baru.
Ikan-ikan famili Scaridae, Siganidae, Pomacentridae, dan Acanthuridae adalah kelompok pemakan alga dan tumbuhan laut, yang berperan penting bagi pertumbuhan dan kesehatan karang. Jika populasi ikan-ikan tersebut sangat berkurang di suatu area terumbu karang, maka alga laut akan berkembang dengan pesat karena tidak terjadi grazing. Dalam jangka panjang, alga akan menutupi dan mengambil alih area terumbu karang. Itulah yang terlihat di daerah-daerah terumbu karang yang rusak akan dipenuhi alga dan berbagai tumbuhan laut.
Pengendali Racun Ciguatera
Ikan-ikan perumput di terumbu karang juga penting karena merupakan pengendali racun ciguatera (cuguatoxin). Akumulasi racun ciguatera di dalam tubuh ikan terjadi karena ikan-ikan ini memakan ikan-ikan herbivora yang memakan epibenthos Gambierdiscus toxicus dan G. breve yang terdapat bersama-sama dengan alga benthos pada karang-karang yang mati (Randall, 1985; Rompas, 2010).
Terdapat tiga marga alga yang yang hidup sebagai epibenthos, Gambierdiscus, Ostreopsis, dan Prorocentrum. Epibenthos Gambierdiscus dan Ostreopsis telah diketahui sebagai dinoflagellata yang menimbulkan toksin cuguatera yang dapat mematikan manusia, jika manusia memakan ikan yang mengandung toksin tersebut.
Ikan-ikan yang diketahui mengandung atau membawa racun ciguatera adalah ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi, seperti kakap merah (Lutjanus rivulatus, L. bohar, L. monostigma), kerapu sunu (Plectropomus leopardus), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), lencam (Lethrinus miniatus), bobara (Caranx sexfasciatus), napoleon (Cheilinus undulatus), dan barakuda (Sphyraena barracuda).
Ikan-ikan pembawa racun ciguatera adalah ikan-ikan karnivora yang memangsa ikan-ikan herbivora yang telah memakan epibenthos Gambierdiscus dan Ostreopsis yang menimbulkan racun ciguatera.
Belum banyak informasi mengenai racun ciguatera, termasuk berpindahnya racun tersebut dari ikan herbivora ke ikan karnivora melalui rantai makanan. Namun, diduga epibenthos Gambierdiscus dan Ostreopsis berkembang pesat pada daerah terumbu karang yang rusak karena kurangnya ikan perumput. Ini berarti, epibentos pembawa racun ciguatera dapat dikendalikan pada terumbu karang yang lestari. Ikan-ikan herbivora berperan penting dalam pengendalian racun ciguatera.
Pengendalian Penangkapan
Karena itu, penangkapan intensif terhadap ikan-ikan karang, termasuk ikan-ikan herbivora famili Scaridae, Siganidae, Pomacentridae, dan Acanthuridae berdampak pada kesehatan dan pertumbuhan karang. Menurunnya populasi ikan-ikan herbivora akan menurunkan tingkat kesehatan dan pertumbuhan karang.
Pertumbuhan alga tidak terkontrol jika populasi ikan-ikan herbivora sangat rendah. Alga yang lebat akan menutupi karang sehingga pertumbuhan karang menjadi terhambat. Di samping itu, tumbuhan epibentos penyebab racun ciguatera akan berkembang pesat karena jumlah pemakan yang berkurang.
Karenanya diperlukan aturan untuk penangkapan ikan-ikan herbivora yang secara ekologis menjaga kelestarian karang. Pemerintah Australia telah melarang penangkapan ikan-ikan herbivora yang menjaga keseimbangan pertumbuhan alga dan tumbuhan laut di Great Barrier Reef.
Pengaturan untuk mengendalikan penangkapan ikan-ikan herbivora di terumbu karang diperlukan untuk menjaga keseimbangan populasi. Karena itu, diperlukan kajian mengenai tingkat kematangan gonad, sehingga ikan-ikan yang matang gonad dan ikan-ikan yang berukuran kecil tidak ditangkap.[]
Artikel ini dikutip dari buku penulis berjudul Pengelolaan Perikanan Indonesia, Edisi Revisi, Pustaka Baru Press, Yogyakarta, 2025.



