back to top
M. Kubais M. Zeen
M. Kubais M. Zeen
Penulis dan Editor
Home |

Bunko

Katulistiwa.id

“Wahai huruf
Bertahun kupelajari kau
kucari faedah dan artimu
Kudekati kau saban hari
Saban aku juga
Kutatap dikau dengan pengharapan
Pengharapan yang tidak jauh
dari hendak ingin dapat dan tahu ….”
(Pramoedya Ananta Toer)

Lelaki paruh baya itu berdiri tenang. Jemarinya menggenggam mikrofon nirkabel, seakan menimbang kata-kata sebelum dilepaskan ke udara.

Di hadapannya, ratusan peserta terdiam, menunggu. “Apa yang membuat Jepang bisa lepas landas,” ia bertanya pelan, “setelah luluh lantak oleh bom atom Amerika Serikat dan sekutu di Hiroshima dan Nagasaki?”

Sejenak, ruangan seperti kehilangan napas. “Kisah tentang Kaisar yang bertanya kepada tentaranya berapa guru yang tersisa, itu sudah terlalu sering kita dengar,” lanjutnya. “Ada cerita lain yang jarang disentuh, masih asing. Bunko.”

Ia adalah Gufran A. Ibrahim. Siang itu, 13 September 2022, dalam forum literasi yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Maluku Utara, ia mengurai satu hal yang kerap luput: membaca sebagai kebiasaan yang ditanam, bukan sekadar diajarkan.

Guru Besar Antropolinguistik Universitas Khairun itu melontarkan pertanyaan sederhana, adakah yang setiap hari membaca di rumah? Berapa orang? Adakah perpustakaan kecil di sudut ruang keluarga? Jika tidak setiap hari, adakah yang menyisakan akhir pekan untuk membaca?

Tak ada tangan terangkat. Hanya beberapa kepala mengangguk ragu, seperti mengiyakan sesuatu yang belum benar-benar mereka hidupi.

Gufran mengingatkan, dalam Islam, membaca ialah titah Tuhan (QS. Al-Alaq:1-5). Dan dalam hampir setiap biografi orang-orang yang menorehkan jejak besar pada berbagai bidang di jagat ini, membaca bukanlah aktivitas sambilan. Tapi napas tak terlihat yang menentukan panjang pendeknya langkah.

Seperti pernah diisyaratkan Profesor M. Quraish Shihab, semakin dalam tradisi membaca, semakin tinggi pula peradaban yang disangga. Membaca bukan sekadar mengeja huruf, melainkan menelaah, meneliti, meraba makna dari kitab suci, semesta, lembar majalah hingga denyut kehidupan masyarakat.

Namun semua itu, kata Gufran, tak bermula dari sekolah, apalagi negara. Membaca lahir dari ruang paling privat, rumah. Dari pangkuan orang tua, kebiasaan itu diulang tanpa gegap gempita.

Di situlah bunko menemukan maknanya.

Di Jepang, bunko bukan sekadar istilah. Melainkan gerakan kecil yang tumbuh dari tangan-tangan ibu—atau para relawan— mengumpulkan buku, kertas, apa pun yang bisa dibaca, lalu membagikannya kepada anak-anak di rumah dan sekitar mereka.

Gerakan itu kadang di ruang tamu, kerap di sudut perpustakaan, sering hanya di lantai rumah yang sederhana.

Selepas kehancuran bom atom, ketika bangunan berkeping dan harapan nyaris luruh di titik nadir, para perempuan Jepang memungut sisa-sisa kertas robek, buku lusuh, halaman tercecer yang masih bisa dibaca.

Dari serpihan-serpihan itu, mereka merajut kembali masa depan dengan membaca. Anak-anak diajak duduk, mengeja, memahami.

Perlahan, dari reruntuhan, lahir generasi yang tak hanya bertahan, tapi juga menjadi denyut pembangunan dan modernisasi negaranya.

Tak mengherankan jika bangsa Jepang hingga kini terkenal “gila” membaca. Bahkan, informasinya setiap tahun orang Jepang membeli 3,2 miliar buku dan majalah untuk dibaca.

Bunko menjadi saksi peradaban tidak selalu dibangun dari gedung megah atau kebijakan besar. Peradaban bisa tumbuh di ruang sempit, dari kebiasaan yang tampak remeh, dan dari ibu-ibu yang memilih bertahan bersama buku.

Gufran menyarankan sesuatu yang terasa sederhana: luangkan waktu, setidaknya sepekan sekali untuk membaca bersama anak di rumah. Jika perlu, pemerintah melibatkan organisasi perempuan seperti PKK, menjadikan membaca sebagai gerakan bersama.

Itu karena di ruang publik kita, membaca sering kali terasa ganjil. Orang yang menunduk pada buku dianggap asing, sedang menjauh dari hiruk-pikuk, padahal sedang memahami dunia lebih dalam.

Barangkali kita belum kehilangan kemampuan membaca. Kita hanya kehilangan kebiasaan untuk memulainya, dan keberanian untuk menjadikannya bagian dari hidup—laksana dua sisi dari selembar uang.

Selebihnya, seperti bunko, tinggal menunggu siapa yang bersedia memungut kembali serpihan itu, lalu merangkainya menjadi masa depan.**

Tim Redaksi
Bagikan :

Artikel Terkait

Profile

Latest Articles