Suatu hari di sebuah toko buku yang hening, saya merasa sedang berdiri di depan ribuan pintu yang tertutup rapat. Setiap punggung buku adalah sebuah nyawa yang menanti untuk dipanggil kembali oleh mata seorang pembaca.
Saya lalu menyusuri lorong-lorong kayu ini dengan langkah kaki yang sengaja kupelankan, seolah takut mengganggu percakapan bisu antara Plato dan para pemikir modern yang berdiri berdampingan di rak yang sama.
Di dunia luar, kita begitu sibuk berteriak agar suara kita tidak tenggelam. Tetapi di sini, dalam kepungan aroma kertas dan debu tipis, saya justru menemukan kemewahan untuk menjadi senyap.
Barangkali, membaca memang sebuah upaya paling sunyi untuk memberontak terhadap keriuhan dunia yang tidak pernah berhenti menuntut jawaban. Kita sering kali datang ke tumpukan buku tidak untuk mencari data atau sekadar informasi yang mendinginkan kepala, melainkan untuk mencari sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu sebuah pengakuan atas kegelisahan yang selama ini kita simpan sendiri.
Dan di dalam keheningan ini, saya menyadari bahwa setiap halaman yang saya buka adalah upaya meminjam mata orang lain untuk melihat warna dunia yang mungkin saja tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Pengetahuan yang sejati tidak pernah datang dengan terompet yang begitu berisik. Ia selalu menyelinap masuk melalui celah-celah refleksi yang jernih saat kita berani berhenti bicara, dan mulai belajar untuk menyimak kembali detak jantung pikiran kita sendiri.**



