Jakarta – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan industri pengolahan non-migas (IPNM) atau manufaktur tetap menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Kuatnya daya serap pasar domestik terhadap produk manufaktur dinilai menjadi keunggulan struktural Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Melansir dari laman sejumlah media nasional, sekitar 80% produk manufaktur nasional diserap pasar dalam negeri, sementara hanya 20% yang bergantung pada ekspor.
“Ini menunjukkan ketahanan industri manufaktur Indonesia jauh lebih solid dibandingkan negara-negara yang hanya bertumpu pada kinerja ekspor,” ujar Menteri Agus dalam acara Capaian Kinerja Industri Manufaktur 2025 dan Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Agus menambahkan, secara absolut, kekuatan manufaktur Indonesia juga tercermin dari besarnya output. Pada 2024, output manufaktur nasional mencapai Rp 8.381 triliun, melampaui output manufaktur negara-negara ASEAN lainnya. Kinerja tersebut diyakini terus berlanjut seiring capaian industri nasional yang cemerlang sepanjang 2025.
Hingga kuartal III/2025, IPNM tumbuh 5,17% secara kumulatif, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,01%. Akselerasi ini ditopang oleh peningkatan kinerja sejumlah sektor industri utama.
Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, sepanjang Januari–September 2025, industri agro tumbuh 4,83% (yoy) dengan angka tenaga kerja mencapai 10 juta, dan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 8,97%.
Sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) mencatat pertumbuhan 5,32% dengan jumlah tenaga kerja 7,10 juta orang, dan menyumbang 3,88% terhadap PDB. Sektor industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (ILMATE) tumbuh 5,53% dengan tenaga kerja 2,03 juta orang, serta kontribusi 4,30% terhadap PDB.
Adapun industri aneka menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 9,55% dengan jumlah tenaga kerja 932.697, meski kontribusinya terhadap PDB masih relatif kecil, yakni 0,12%.
Mengacu pada capaian 2025, Kemenperin menargetkan pertumbuhan IPNM pada 2026 mencapai 5,51% dengan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 18,56%. Target ini lebih tinggi dibandingkan kontribusi IPNM hingga kuartal III/2025 yang berada di level 17,27%.
Agus menyatakan, pertumbuhan tersebut akan didorong oleh kinerja sektor-sektor strategis. Industri logam ditargetkan tumbuh 14%, industri kimia, farmasi, dan obat-obatan 6,26%, industri makanan dan minuman 6,06%, serta industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sebesar 5,19%.
“Dengan struktur industri yang semakin kuat dan pasar domestik yang besar, manufaktur Indonesia memiliki ruang tumbuh yang berkelanjutan,” pungkasnya.*



